KONI Jatim Sayangkan PON Bela Diri Ditunda, Program Puslatda Harus Disesuaikan

  • 04 Sep 2026 13:46 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Penundaan PON Bela Diri dari 2026 ke 2027 membuat KONI Jawa Timur harus kembali menyesuaikan program pembinaan atlet. Ketua KONI Jatim M. Nabil menyayangkan keputusan tersebut karena persiapan khusus untuk menghadapi ajang tersebut sudah berjalan selama dua bulan.

Jatim sebelumnya telah menyiapkan delapan cabang olahraga bela diri untuk mengikuti PON Bela Diri. Bahkan, KONI Jatim membentuk Puslatda khusus sebagai bagian dari persiapan menghadapi ajang yang awalnya dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.

Program tersebut sudah berjalan sejak Juli dan memasuki Agustus. Namun, keputusan pengalihan penyelenggaraan ke 2027 membuat program yang telah disusun harus kembali dievaluasi.

"Jadi kita tiba-tiba dapat surat dari KONI Pusat ada penundaan yang mestinya untuk PON Bela Diri. Padahal kita sudah menyiapkan delapan cabang olahraga itu untuk berlatih. Bahkan, kita buat Puslatda khusus bela diri," kata Nabil, saat dihubungi RRI Surabaya, Jumat, 4 September 2026.

Menurutnya, penundaan tersebut cukup berdampak karena KONI Jatim sebelumnya telah menyusun program latihan dengan durasi tertentu. Terlebih, cabang olahraga bela diri membutuhkan persiapan yang matang, termasuk konsolidasi, latihan, serta peningkatan jam terbang pertandingan.

"Nah, ketika ada penundaan ini, berarti Puslatdanya juga kita tunda. Karena dengan efisiensi anggaran, kita ambil tiga bulan untuk membentuk Puslatda PON Bela Diri. Dan itu sudah berjalan, Juli, Agustus," ujarnya.

Nabil juga menyayangkan keputusan tersebut karena disampaikan ketika persiapan sudah berjalan. Kondisi itu membuat KONI Jatim harus mendesain ulang sejumlah agenda pembinaan dan kegiatan olahraga lainnya.

"Akhirnya kita tunda lagi, tergantung bagaimana keputusan KONI Pusat. Cuma memang kita agak menyayangkan karena kok mendadak. Itu yang membuat kita harus mendesain ulang rencana kegiatan-kegiatan lain," jelasnya.

Ia menambahkan, atlet yang dipersiapkan bukanlah pendatang baru. Namun, mereka tetap membutuhkan persiapan khusus ketika menghadapi sebuah ajang besar.

"Iya, karena sebenarnya mereka itu sebagian anak-anak yang bukan newcomer, bukan pendatang baru. Tapi dalam sebuah event harus ada persiapan minimal tiga bulan untuk konsolidasi, latihan, dan tanding. Apalagi ini kan combat, maka jam terbang tandingnya juga harus bagus," tuturnya.

Penundaan juga berpotensi memengaruhi kondisi performa atlet. Selama ini, KONI Jatim telah melakukan pemantauan secara berkala sekaligus menyusun panduan dan modul latihan bagi para atlet.

"Ya tentu berpengaruh. Karena selama ini mereka kita pantau dalam latihan Puslatdanya dan kita monitor terus. Bahkan kita membuat guidance bentuk latihan, cara melatih, kita sudah buat modulnya untuk mereka," kata Nabil.

Menurutnya, pembinaan atlet tidak bisa dilakukan secara terputus-putus karena setiap atlet memiliki fase puncak performa. Program yang sudah berjalan perlu dijaga agar penundaan tidak membuat performa atlet turun atau mengganggu proses menuju puncak performa.

"Karena atlet itu dalam sebuah latihan ada peak-nya, ada puncak posisinya, puncak performanya. Ini berarti dimulai dari nol lagi nantinya. Tidak mungkin hari ini ditarget tiga bulan latihan Puslatda, kemudian kita buat dua bulan sudah berjalan, tahun depan satu bulan. Kan tidak begitu. Karena harus ada sebuah konsistensi pembinaan di situ," tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....