KONI Jatim Dorong Atlet Laki-Laki Berani Bercerita, Pelatih Jadi Tempat Curhat

  • 03 Agt 2026 18:59 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur mulai memperkuat perhatian terhadap kesehatan mental atlet dengan membangun budaya komunikasi yang lebih terbuka di lingkungan olahraga. Salah satu langkah yang disiapkan adalah mendorong pelatih menjadi figur yang mampu menerima keluhan dan persoalan atlet, khususnya atlet laki-laki.

Ketua Umum KONI Jawa Timur M. Nabil menilai masih banyak atlet laki-laki yang memilih memendam persoalan dibandingkan menyampaikannya kepada orang-orang terdekat. Padahal, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi perkembangan diri maupun pencapaian prestasi.

“Ini fenomena yang belum banyak dibahas. Anak laki-laki ketika menghadapi masalah sering tidak menyalurkannya kepada orang tua. Di dunia olahraga, mereka lebih banyak berinteraksi dengan pelatih. Jika semua dipendam, tentu akan menghambat perkembangan dan prestasi,” kata Nabil, Senin, 3 Agustus 2026.

KONI Jatim akan menginisiasi deklarasi yang mengajak atlet laki-laki lebih berani menyampaikan tekanan, keluhan, maupun persoalan kepada pelatih. Deklarasi tersebut akan melibatkan pelatih serta perwakilan atlet dari berbagai cabang olahraga sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pembinaan yang lebih sehat.

Menurut Nabil, perhatian terhadap kesehatan mental atlet tidak bisa dilepaskan dari tingginya tekanan yang muncul selama proses pembinaan. Ia menegaskan bahwa bullying di dunia olahraga tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga dapat hadir dalam bentuk tekanan psikologis.

“Bullying tidak selalu fisik. Target juara, tuntutan pelatih, ekspektasi orang tua, hingga tekanan dari diri sendiri juga bisa menjadi beban psikologis yang perlu diperhatikan,” ujarnya.

Ia menjelaskan setiap atlet menghadapi tantangan mental yang berbeda. Atlet berprestasi harus mempertahankan pencapaiannya, sementara atlet muda dituntut segera meraih hasil terbaik. Kondisi tersebut membuat kesehatan mental menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembinaan olahraga.

“Justru atlet yang sudah sering menang memiliki tekanan lebih besar untuk mempertahankan prestasi. Sementara atlet pemula juga tertekan untuk bisa menjadi juara. Keduanya sama-sama memiliki beban mental,” jelasnya.

Gerakan yang diinisiasi KONI Jatim itu juga sejalan dengan kampanye "Ayah Bunda, Anak Laki-Lakimu Butuh Kamu" yang digagas DPC Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kota Surabaya bersama RSD Prof. dr. Moeljono Surabaya. Kampanye tersebut mengajak orang tua memberikan ruang aman bagi anak laki-laki untuk mengekspresikan emosi tanpa rasa takut akan stigma.

Sementara Ketua DPC FPPI Kota Surabaya, Nenny W. Gunarso, mengatakan pola asuh yang menganggap anak laki-laki tidak boleh mengeluh masih banyak dijumpai. Padahal, kebiasaan memendam emosi dapat berdampak terhadap kesehatan mental.

“Sering kali anak laki-laki diminta untuk tidak mengadu. Padahal memendam rasa sakit atau kecewa itu bisa berbahaya,” ujarnya.

Sebagai bentuk komitmen bersama, KONI Jatim, FPPI, dan RSD Prof. dr. Moeljono Surabaya akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) sekaligus mendeklarasikan gerakan tersebut pada 11 Agustus 2026 di Gedung KONI Jawa Timur. Program ini diharapkan menjadi awal terbentuknya budaya olahraga yang lebih peduli terhadap kesehatan mental sekaligus mendukung pembinaan atlet menuju Porprov Jawa Timur 2027.

“Harapan kami, tidak ada lagi anak laki-laki yang memendam masalah sendiri. Pelatih harus menjadi tempat yang aman bagi atlet untuk bercerita, agar persoalan bisa diselesaikan lebih cepat dan tidak mengganggu perkembangan maupun prestasi mereka,” tegas Nabil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....