UNESA Cetak Rekor MURI Yoga Bersama Penyandang Disabilitas
- 21 Jun 2026 13:47 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus inklusif melalui kegiatan yoga massal yang melibatkan ribuan peserta, termasuk penyandang disabilitas. Kegiatan yang digelar dalam rangka peringatan Hari Yoga Internasional 2026 itu dipandu instruktur yoga Anjasmara dan berhasil mencatatkan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori Yoga dengan Gerakan Disabilitas oleh Peserta Terbanyak, Minggu, 21 Juni 2026.
Wakil Rektor IV UNESA, Prof. Dr. Dwi Cahyo Kartiko, M.Kes., mengatakan kegiatan tersebut menjadi wujud nyata komitmen kampus dalam menghadirkan ruang yang setara bagi penyandang disabilitas dan non-disabilitas. Sebagai perguruan tinggi yang memiliki keunggulan di bidang disabilitas, olahraga, dan seni, UNESA ingin menunjukkan bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berpartisipasi.
"UNESA dengan tiga keunggulan, yaitu disabilitas, olahraga dan seni, hari ini kita akan tunjukkan bahwa UNESA itu hadir untuk anak disabilitas. Selama ini yoga itu memang untuk anak non-disabilitas, tapi UNESA ingin mensejajarkan, tidak ada jarak antara disabilitas dan non-disabilitas," ujarnya.
Sementara instruktur yoga Anjasmara menjelaskan bahwa gerakan yang dipraktikkan merupakan bagian dari Yoga Protocol yang telah ditetapkan Pemerintah India dan dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk penyandang disabilitas.
"Gerakan yang kita lakukan merupakan standar dari yoga protocol yang sudah dipatenkan oleh Pemerintah India. Pose-pose yoga yang tadi itu dapat dilakukan oleh siapapun, dimanapun, kapanpun. Jadi tidak hanya kita yang normal saja, tapi teman-teman yang disabilitas pun dapat melakukannya. Tapi harus diingat lagi bahwa kita melakukannya sesuai dengan kondisi tubuh," jelasnya.
Menurut Anjasmara, yoga tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Ia mengaku merasakan langsung manfaat yoga dalam mengelola stres sekaligus meningkatkan kualitas hidup.
"Dengan yoga meningkatkan tingkat kesadaran saya terhadap tubuh, pikiran serta jiwa dan sekeliling. Dan dengan yoga meningkatkan metabolisme tubuh, memperlancar peredaran darah, serta meningkatkan kadar oksigen dalam tubuh," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa yoga merupakan olahraga yang inklusif karena tidak mengenal batasan usia maupun kondisi fisik tertentu. Oleh karena itu, penyandang disabilitas juga dapat merasakan manfaat yang sama melalui gerakan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
"Yoga tidak mengenal batasan usia pada saat melakukan yoga dan yoga pun dapat dilakukan di mana saja, kapan saja. Pastinya metabolisme tubuh semakin baik, kadar oksigen dalam tubuh semakin meningkat, tubuh pun bisa lebih cepat rileks dan melepaskan seluruh ketegangan-ketegangan yang ada di tubuh," tegasnya.
Sementara itu, Relationship Manager Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), Almy Birama Jufaransyah, mengapresiasi langkah UNESA yang dinilai menjadi pelopor penyelenggaraan yoga inklusif di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai penting karena membuka akses yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk terlibat dalam aktivitas olahraga dan kesehatan.
"Yang kami lihat dan yang kami apresiasi di sini adalah UNESA dengan niat baiknya bisa mengomunikasikan yoga kepada teman-teman disabilitas. Untuk di lingkungan institusi pendidikan ini merupakan yang pertama. Jadi kami mengapresiasi, semoga pencatatan rekor ini menginspirasi kampus-kampus lain untuk melakukan hal yang sama," ujarnya.
Apresiasi juga disampaikan Duta Besar India untuk Indonesia, Shri Sandeep Chakravorty. Ia menilai kegiatan yang digelar UNESA membawa pesan penting bahwa yoga merupakan aktivitas yang dapat dilakukan oleh semua orang tanpa memandang usia maupun kondisi fisik.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada UNESA dan Pak Jasmara yang telah menyelenggarakan yoga hari ini. Saya pikir yoga adalah sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang disabilitas. Anda tidak perlu melakukan yoga khusus untuk disabilitas, karena yoga adalah untuk semua orang," katanya.
Menurut Chakravorty, setiap orang dapat menyesuaikan gerakan yoga atau asana sesuai kondisi tubuh masing-masing, termasuk lansia, penyandang disabilitas, maupun mereka yang sedang mengalami cedera. Kegiatan ini diharapkan pesan kuat tentang inklusivitas dan kesetaraan akses terhadap olahraga serta kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Jika Anda sudah lanjut usia, penyandang disabilitas, atau sedang mengalami cedera, selalu ada asana yang bisa dilakukan. Gerakan-gerakan tersebut dapat membantu meningkatkan metabolisme tubuh dan mendukung gaya hidup yang sehat," tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....