Respons Komdigi, ESI Jatim: Tegaskan Beda Kecanduan dan Latihan
- 18 Mar 2026 09:44 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Pembatasan akses media sosial bagi anak dibawah 16 tahun yang diberlakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mulai 28 Maret 2026, disikapi positif oleh Pengurus Provinsi E-Sports Indonesia (ESI) Jawa Timur. Pembinaan usia dini tetap berjalan lewat pendekatan yang lebih terstruktur.
Ketua Harian ESI Jawa Timur, Daniel Agung, menjelaskan harus ada batasan yang jelas antara kecanduan gawai dengan porsi latihan bagi atlet profesional usia dini. Pihaknya telah mengkaji dampak kebijakan tersebut dan mengambil langkah preventif. Sebagai contoh fenomena game Roblox yang belakangan banyak dimainkan anak-anak dan kerap menjadi sorotan publik.
"Hal ini sudah kami sosialisasikan kepada orang tua dan anak-anak. Roblox bukan merupakan game yang dipertandingkan di level keatletan. Itu adalah game kasual dan tidak ada hubungannya dengan jejak prestasi para atlet muda," kata Daniel, Rabu, 18 Maret 2026.
Daniel juga menyoroti penilaian terhadap screen time (durasi menatap layar) dalam konteks esports. Menurutnya, screen time pembinaan tidak bisa dilihat hanya dari lamanya durasi, melainkan dari tujuan, struktur, dan pengawasannya.
"Pembinaan itu memiliki jadwal latihan terukur, target peningkatan skill, evaluasi performa oleh pelatih, serta pengawasan dari pembina dan orang tua. Sementara kecanduan digital biasanya ditandai aktivitas tanpa kontrol, tanpa tujuan prestasi, dan mengganggu keseimbangan hidup anak. Harus dibedakan, apakah teknologi digunakan untuk konsumsi hiburan tanpa batas, atau untuk latihan terstruktur yang dibina profesional," lanjutnya.
ESI Jatim juga melihat pentingnya pemisahan antara platform jejaring sosial dengan ruang kompetisi esports. Platform yang berpotensi adiktif, umumnya memiliki algoritma yang menahan perhatian pengguna tanpa batas, interaksi publik luas tanpa moderasi, serta konten yang tidak relevan dengan tujuan pembinaan.
Sementara itu, terkait tingginya angka cyberbullying yang menjadi salah satu alasan Komdigi mengeluarkan kebijakan pembatasan, ESI Jatim memandang hal tersebut sebagai risiko nyata di ruang digital, termasuk komunitas gaming.Daniel menyebut kebijakan pemerintah memiliki niat baik untuk melindungi anak-anak dari interaksi digital yang tidak terkontrol.
Pembatasan akses ke platform berinteraksi terbuka dinilai bisa mengurangi risiko perundungan siber bagi anak yang belum matang secara mental.Namun, ESI Jatim mendorong pendekatan yang diimbangi edukasi.
"Pembinaan esports harus menanamkan sportivitas, etika kompetisi, serta literasi digital sejak dini. Pendekatan kami bukan hanya pembatasan, tetapi juga edukasi karakter agar atlet muda mampu menghadapi dinamika kompetisi secara sehat," tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....