Belajar dari Jepang, AI di Sekolah Tidak Jadi Jalan Pintas

  • 16 Sep 2026 17:10 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Jepang menjadi contoh penerapan AI dalam pendidikan yang fokus pada penguatan kemampuan berpikir siswa, bukan hanya menghasilkan jawaban.
  • Kuliah tamu internasional tentang penggunaan optimal AI dalam desain, pengembangan, dan evaluasi pendidikan diselenggarakan oleh Program Studi S3 Teknologi Pendidikan FIP UNESA.
  • Pemanfaatan kecerdasan buatan mulai mengubah cara pendidikan dikembangkan di berbagai negara dengan pendekatan yang lebih mengedepankan kemampuan kognitif siswa.

RRI.CO.ID, Surabaya – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara pendidikan dikembangkan di berbagai negara. Jepang menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan berpikir siswa, bukan sekadar menghasilkan jawaban.

Hal tersebut dibahas dalam Kuliah Tamu Internasional Program Studi S3 Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNESA. Kegiatan bertajuk “Optimal Use of Artificial Intelligence (AI) in the Design, Development, and Evaluation of Education in Japan's Digital Age” digelar secara hybrid di Ruang Sidang Gedung O1 FIP UNESA, baru-baru ini.

Forum tersebut menghadirkan dua pakar pendidikan dari Aichi Toho University, Nagoya, Jepang, yakni Prof. Shirai Katsuhisa, Ph.D. dan Prof. Takeshi Tsuchiya, Ph.D. Dalam forum tersebut, para narasumber menjelaskan penerapan AI dalam kurikulum pendidikan Jepang yang didukung kebijakan One Student One Device.

Pemanfaatan perangkat digital tidak diarahkan sekadar untuk mencari jawaban. Siswa menggunakan perangkat untuk menginvestigasi masalah, mengumpulkan data, berdiskusi, kemudian memanfaatkan AI untuk memeriksa kebenaran hipotesis atau informasi yang ditemukan.

Menariknya, guru di Jepang tidak menjadikan jawaban akhir sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan siswa. Proses berpikir, cara menemukan solusi, dinamika diskusi kelompok, hingga kemampuan memeriksa kebenaran informasi menjadi bagian penting dalam penilaian.

Dalam pendekatan tersebut, AI ditempatkan sebagai alat untuk menguji logika dan informasi. Teknologi tidak diarahkan menjadi jalan pintas bagi siswa dalam menyelesaikan tugas pembelajaran.

Diskusi kemudian berkembang ketika mahasiswa Program Doktor Teknologi Pendidikan UNESA, Muhammad Rafeli Fakhlipi, mengangkat persoalan pemerataan pendidikan di Indonesia.

Ia menyoroti kesenjangan mutu dan fasilitas pendidikan antara Pulau Jawa dengan wilayah luar Jawa, termasuk Kalimantan dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Ia kemudian mempertanyakan apakah Jepang sebagai negara kepulauan menghadapi persoalan serupa.

Pertanyaan tersebut mengarah pada pembahasan mengenai standar pendidikan di Jepang. Pakar Aichi Toho University menjelaskan bahwa Jepang menerapkan regulasi dan standardisasi nasional yang ketat terhadap satuan pendidikan.

Standar tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari luas lahan, spesifikasi bangunan, fasilitas laboratorium komputer, hingga sarana pendukung pembelajaran. Institusi pendidikan harus memenuhi standar tersebut sebelum memperoleh izin pendirian dan operasional.

Standarisasi nasional itu menjadi salah satu fondasi pemerataan fasilitas pendidikan di berbagai wilayah Jepang. Dengan standar sarana yang sama, penerapan kurikulum berbasis teknologi dan AI dapat dilakukan secara lebih merata.

Dosen pengampu mata kuliah Kajian dan Pengembangan Kurikulum UNESA, Dr. H. Lamijan Hadi Susarno, M.Pd., menilai pengalaman Jepang menunjukkan pentingnya kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Menurutnya, kurikulum tidak dapat bersifat statis karena perkembangan teknologi terus bergerak. Pembaruan kurikulum diperlukan agar pembelajaran tetap relevan dan mampu membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Kuliah tamu tersebut sekaligus menjadi refleksi bagi pengembangan pendidikan Indonesia. Pemanfaatan AI dinilai membutuhkan desain pembelajaran yang menempatkan proses berpikir sebagai bagian utama, serta dukungan regulasi untuk memastikan pemerataan akses teknologi.

Melalui forum tersebut, S3 Teknologi Pendidikan FIP UNESA juga memperkuat jejaring akademik dengan Aichi Toho University Jepang sekaligus mendorong riset dan inovasi pembelajaran yang sesuai dengan tantangan era AI.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....