Korban Tembus 748 Santri, BGN Akui Ada Kelalaian Dapur

  • 04 Sep 2026 16:35 WIB
  •  Surabaya

‎RRI.CO.ID,Sidoarjo - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) RI, Mayjen TNI Trenggono, mendatangi Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Sidoarjo, Jumat 4 September 2026. Kedatangan itu menyusul dugaan ketidaksesuaian menu setelah ratusan santri, siswa, dan warga mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG).

‎

‎Trenggono datang bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi, jajaran Tim Kantor Staf Presiden (KSP), Bupati Sidoarjo, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD). Mereka meninjau kondisi korban sekaligus mengevaluasi penanganan insiden yang terjadi di lingkungan pesantren tersebut.

‎

‎Dalam kunjungannya, Trenggono juga menggelar pertemuan tertutup dengan pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikam. Pertemuan membahas kondisi korban, penanganan medis, serta evaluasi terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan MBG.

‎

‎BGN mencatat sebanyak 748 orang terdampak dalam kejadian tersebut. Sebagian besar telah mendapatkan penanganan dan dinyatakan pulih.

Hingga Jumat pagi, sekitar 20 orang masih menjalani perawatan di sembilan rumah sakit atau fasilitas kesehatan. ‎“Yang terdampak adalah 740-an. Kemudian sampai dengan pagi ini sudah kembali semua, tinggal 20 di sembilan rumah sakit atau tempat kesehatan, dan semua sudah dalam kondisi pulih, sudah dalam kondisi baik,” kata Trenggono.

‎

‎Atas kejadian tersebut, BGN menyampaikan permintaan maaf kepada para korban dan pihak pesantren. Trenggono menyebut dugaan kelalaian atau ketidakpatuhan terhadap prosedur operasional dapur menjadi salah satu hal yang harus diinvestigasi.

‎

‎“Kami menyampaikan permohonan maaf atas mungkin kelalaian ataupun ketidakpatuhan petugas dapur dalam mengoperasionalkan dapur, sehingga adanya kejadian fatal ini,” ujarnya.

‎

‎BGN telah menghentikan sementara operasional dapur SPPG yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut. Tidak hanya itu, kepala dapur juga dicopot selama proses investigasi berlangsung.

‎

‎“Dapur tidak dioperasionalkan lagi. Sementara kita suspend, suspend berat, artinya kita evaluasi, kita adakan investigasi. Kemudian juga kepala dapur kita copot, kita berhentikan,” tegas Trenggono.

‎

‎Ia mengatakan sanksi permanen dapat dijatuhkan apabila hasil investigasi menemukan pelanggaran SOP, unsur kesengajaan, atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang ditetapkan BGN. ‎“Apabila dapur nanti tidak melaksanakan SOP dengan baik, kesengajaan, dan ini tidak sesuai dengan apa yang sudah menjadi aturan dari BGN, bisa kita suspend permanen,” katanya.

‎

‎Trenggono sekaligus meluruskan informasi mengenai jumlah korban yang disebut mencapai ribuan orang. Menurut dia, data resmi yang diterima BGN menunjukkan jumlah terdampak dalam insiden tersebut sebanyak 748 orang.

‎

‎“Enggak ada ribuan. Jangan melaporkan statement yang tidak jelas datanya. Di sini saja 748,” ujarnya.

‎

‎Kasus tersebut, menurut Trenggono, menjadi momentum bagi BGN untuk mengevaluasi kepatuhan terhadap SOP di seluruh dapur penyedia MBG. Saat ini terdapat 27.485 dapur mitra yang berada dalam pengawasan BGN.

‎

‎“Pengawasan sudah cukup ketat. Setiap pagi ada Zoom langsung ke seluruh dapur. SOP sebenarnya sudah ada, tinggal dilaksanakan enggak di tiap-tiap dapur,” kata Trenggono.

‎

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....