Kenapa Kerupuk Jadi Bintang Lomba 17-an?

  • 14 Agt 2026 08:15 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Setiap Agustus, ada satu makanan yang mendadak berubah fungsi. Biasanya menjadi teman makan nasi, tetapi saat lomba 17-an, kerupuk justru digantung dan diperebutkan tanpa boleh disentuh tangan. Anak-anak tertawa, orang dewasa ikut mencoba, dan makanan sederhana itu berubah menjadi salah satu permainan yang paling ditunggu dalam perayaan kemerdekaan.

Lantas, mengapa justru kerupuk yang begitu lekat dengan lomba 17 Agustus?

Laman resmi Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bisnis dan Pariwisata, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, menyebut lomba 17 Agustus mulai muncul sekitar 1950-an, ketika masyarakat mulai merayakan kemerdekaan dengan berbagai kegiatan yang menyenangkan. Salah satunya adalah lomba makan kerupuk.

Dalam penjelasan mengenai makna lomba tersebut, BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata mengaitkan makan kerupuk dengan kondisi pangan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan. “Lomba makan kerupuk merupakan penggambaran rakyat Indonesia di masa penjajahan yang mengalami kesulitan pangan,” demikian keterangan yang dimuat pada laman resmi lembaga tersebut.

Dalam sumber yang sama, kerupuk juga dimaknai sebagai lambang kesetaraan karena dapat dinikmati berbagai kalangan. Karena itu, lomba makan kerupuk ditempatkan sebagai pengingat terhadap masa sulit sekaligus pentingnya menjaga persatuan. Namun, makna tersebut perlu dipahami sebagai penjelasan atau interpretasi yang dimuat oleh lembaga tersebut, bukan sebagai kepastian mengenai siapa pencetus pertama lomba makan kerupuk.

Yang menarik, hingga sekarang lomba tersebut tetap bertahan. Aturannya sederhana: kerupuk digantung menggunakan tali dan peserta harus menghabiskannya tanpa bantuan tangan. Sederhana, tetapi justru aturan itulah yang membuat perlombaan menjadi lucu dan mengundang penonton untuk ikut bersorak.

Tidak diperlukan arena khusus atau peralatan mahal. Cukup beberapa kerupuk, seutas tali, dan warga yang berkumpul. Peserta harus mengatur gerakan kepala, mencari posisi yang tepat, sekaligus berusaha menghabiskan kerupuk secepat mungkin. Dari situ muncul tawa dan keseruan yang membuat lomba ini terus muncul setiap Agustus.

Tradisi perlombaan 17 Agustus sendiri kemudian berkembang menjadi bagian dari cara masyarakat merayakan kemerdekaan. Bukan hanya anak-anak, orang dewasa hingga kelompok masyarakat lainnya ikut terlibat. Lomba sederhana akhirnya menjadi ruang pertemuan warga dan hiburan bersama.

Maka, ketika melihat kerupuk digantung menjelang 17 Agustus, yang hadir sebenarnya bukan sekadar makanan yang dijadikan permainan. Ada tradisi yang telah bertahan puluhan tahun, ada kesederhanaan, dan ada kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul dalam suasana yang lebih santai.

Kerupuk yang biasanya hanya menjadi pelengkap di meja makan, setiap Agustus berubah menjadi salah satu bintang lomba 17-an.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....