Kimpul vs Talas: Serupa, tetapi ternyata Bukan Umbi yang Sama

  • 14 Sep 2026 12:23 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Sekilas, kimpul dan talas memang sulit dibedakan. Keduanya sama-sama termasuk kelompok tanaman talas-talasan atau famili Araceae, memiliki daun berukuran besar, serta menghasilkan umbi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Tak heran jika keduanya kerap dianggap sebagai tanaman yang sama.

Mengutip dari laman pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id menyebutkan bahwa talas memiliki nama ilmiah Colocasia esculenta, sementara umbi kimpul atau belitung termasuk Xanthosoma spp. Talas merupakan tanaman pangan yang sudah lama dibudidayakan dan dimanfaatkan masyarakat Indonesia.

Talas mempunyai peluang untuk dikembangkan sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri. Talas juga memiliki kandungan karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin. Sedangkan kimpul dikenal pula dengan sebutan talas belitung atau Belitung.

Ada satu hal yang membuat talas dan kerabatnya sering mendapat perhatian, yaitu rasa gatal ketika dikonsumsi atau ditangani dalam kondisi tertentu. Mengutip dari website www.pertanian.go.id Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa rasa gatal pada talas berkaitan dengan adanya kalsium oksalat. Proses pengolahan atau pemasakan diperlukan untuk mengurangi masalah tersebut sehingga talas dapat dikonsumsi dengan lebih aman.

Karena itu, jangan mengonsumsi umbi talas atau kimpul secara sembarangan dalam kondisi mentah. Pengolahan yang tepat menjadi bagian penting sebelum dikonsumsi.

Kimpul dan talas memang mirip, tetapi bukan tanaman yang sama. Perbedaan utamanya terletak pada genus dan karakteristik tanamannya. Talas (Colocasia esculenta) telah lama menjadi salah satu pangan lokal Indonesia, sementara kimpul (Xanthosoma sagittifolium) juga memiliki potensi sebagai sumber pangan alternatif.

Keduanya menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan lokal yang beragam. Dengan pengolahan yang tepat, umbi-umbian seperti talas dan kimpul tidak hanya dapat menjadi makanan tradisional, tetapi juga berpeluang dikembangkan menjadi produk pangan modern dan bernilai ekonomi.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....