Bisnis Kuliner Surabaya Makin Matang Secara Digital
- 21 Agt 2026 15:03 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Bisnis kuliner di Kota Surabaya menunjukkan perkembangan semakin matang seiring pertumbuhan ekonomi dan perubahan perilaku konsumen menuju transaksi digital. Data PT Esensi Solusi Buana (ESB) per Agustus 2026 menunjukkan 78 persen transaksi F&B di Surabaya kini dilakukan secara non-tunai.
Pertumbuhan juga terlihat dari jumlah merchant F&B yang meningkat 32 persen dalam setahun terakhir. Di sisi lain, transaksi dari merchant yang telah beroperasi atau same-store turut tumbuh hampir 10 persen, menandakan aktivitas bisnis kuliner tetap bergerak di tengah persaingan.
Agung Haryadi, F&B Educator & Management Consultant, menilai perkembangan bisnis kuliner Surabaya membuat persaingan antarpelaku usaha semakin ketat. Menurut dia, pertumbuhan jumlah pemain perlu diimbangi dengan kemampuan membangun diferensiasi dan mengelola operasional secara efisien.
“Pasar F&B Surabaya sekarang ini keras. Nyaris tiap ruko kosong jadi kafe baru, tapi jumlah konsumennya tidak bertambah secepat itu. Yang bertahan hanya yang punya diferensiasi jelas dan efisien secara operasional, bukan yang sekadar viral sesaat,” ujar Agung, Jumat 21 Agustus 2026.
Persaingan tersebut berlangsung ketika pelaku usaha menghadapi tekanan biaya bahan baku, sewa tempat, listrik, hingga kenaikan Upah Minimum Kota (UMK). Tingginya turnover karyawan juga menjadi tantangan karena dapat memengaruhi konsistensi kualitas produk dan pelayanan kepada pelanggan.
Gunawan, CEO & Co-Founder ESB, mengatakan kondisi tersebut membuat efisiensi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis kuliner di Surabaya. Menurut dia, teknologi dan pemanfaatan data dapat membantu pelaku usaha mengambil keputusan berdasarkan kondisi bisnis secara lebih terukur.
“Ketika harga bahan baku naik dan margin semakin tipis, setiap persen biaya yang bisa dihemat jadi keputusan strategis. Data transaksi juga bisa menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis, baik untuk hari ini maupun esok,” kata Gunawan.
Perubahan pola transaksi menjadi salah satu indikator meningkatnya adopsi teknologi dalam bisnis kuliner Surabaya. Selain transaksi non-tunai, pelaku usaha mulai memanfaatkan sistem terintegrasi untuk mengelola kasir, stok, laporan penjualan, hingga pemesanan secara lebih efisien.
Pemanfaatan teknologi juga menjadi salah satu fokus dalam Kopdar Racik Bisnis F&B yang digelar di Surabaya. Forum tersebut mempertemukan pelaku usaha kuliner dengan pakar untuk membahas strategi pertumbuhan, efisiensi operasional, serta pemanfaatan data dalam pengembangan bisnis.
“Viral itu penting untuk membangkitkan curiosity. Namun, yang membuat pelanggan kembali dan bisnis bertahan adalah sistem yang kuat di belakangnya. Saat turnover karyawan tinggi, SOP tetap berjalan karena semua tercatat rapi dalam sistem,” tutur Teofilus Hartono, Co-Founder & CEO Mr Suprek.
Dengan pertumbuhan transaksi digital dan basis merchant yang terus meningkat, bisnis kuliner Surabaya memasuki fase persaingan yang menuntut lebih dari sekadar popularitas. Pelaku usaha dituntut mampu menggabungkan diferensiasi produk, efisiensi operasional, serta pemanfaatan teknologi agar dapat bertahan dan tumbuh secara berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....