Menolak Punah! Menelusuri Eksistensi dan Asal-Usul Siomay Jadul Gerobak

  • 29 Jun 2026 11:19 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Di tengah gempuran kuliner modern dan viral yang silih berganti memadati Kota Pahlawan, ada satu kudapan sederhana yang tetap kokoh mempertahankan eksistensinya. Ya, apa lagi kalau bukan Siomay Jadul.

Pedagang siomay keliling dengan gerobak khasnya masih menjadi pemandangan akrab sekaligus buruan pencinta kuliner legendaris di sudut-sudut jalan Surabaya.

Seolah tidak tergerus zaman, aroma gurih bumbu kacang dan kukusan siomay hangat dari gerobak kaca ini selalu sukses menghentikan langkah para pengguna jalan.

Siomay jadul keliling di Surabaya menawarkan karakter yang berbeda dibandingkan siomay modern atau siomay Bandung yang berukuran besar dan bertekstur kenyal tebal.

Pedagang menyajikan siomay dalam ukuran mini atau sekali gigit (bite-sized), sehingga harganya tetap terjangkau bagi semua kalangan, mulai dari anak sekolah hingga pekerja kantoran.

Pedagang juga menghadirkan beragam isian klasik. Gerobak kaca biasanya menampilkan tumpukan siomay kukus, tahu, kubis (kol) gulung, kentang, serta siomay goreng kering yang memberikan tekstur renyah.

Pedagang kemudian menyiramkan bumbu kacang kental yang gurih, sedikit manis, dan bertekstur sebagai ciri khas sajian ini. Perpaduan bumbu tersebut semakin nikmat dengan tambahan kecap manis dan saus cabai botolan yang memberikan sensasi pedas.

Mengapa siomay jadul ini tetap eksis? Kuncinya ada pada nostalgia dan konsistensi rasa. Bagi warga Surabaya, sepiring siomay jadul bukan sekadar pengganjal perut lapar di sore hari, melainkan mesin waktu yang membawa ingatan kembali ke masa kecil.

"Rasa bumbu kacangnya khas, tidak berubah dari dulu. Harganya juga ramah di kantong. Meskipun sekarang banyak jajanan kekinian, siomay gerobakan seperti ini tetap punya tempat sendiri di hati," ujar Diaz salah satu pelanggan setia siomay.

Membahas siomay tentu tidak lepas dari sejarah panjang imigran Tionghoa di Indonesia. Asal-usul siomay atau shaomai sebenarnya berasal dari Mongolia Dalam. Kuliner ini kemudian menyebar ke seluruh daratan Tiongkok, termasuk ke wilayah Kanton yang membawanya masuk ke nusantara melalui jalur perdagangan.

Di tempat asalnya, siomay menggunakan daging babi atau cincangan daging lainnya yang dibungkus kulit pangsit tipis. Namun, begitu menyentuh lidah masyarakat lokal Indonesia yang mayoritas muslim, resep ini beradaptasi menggunakan daging ikan (seperti tenggiri atau ayam, berpadu dengan tepung tapioka (kanji).

Meski zaman berganti dan kuliner baru terus bermunculan, eksistensi siomay jadul di Surabaya membuktikan bahwa resep tradisional yang dirawat dengan konsistensi akan selalu menemukan jalannya untuk bertahan di hati masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....