Menyeruput Kesegaran Jamu Tradisional Racikan Mbak Yani
- 08 Jun 2026 12:30 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Di tengah gempuran aneka minuman kekinian yang serba manis dan instan, eksistensi jamu tradisional herbal rupanya tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Salah satu potret keteguhan merawat tradisi ini tercermin dari kisah Mbak Yani, seorang penjual jamu yang kini sukses menjadi alternatif segar favorit bagi para pegawai kantoran di sekitar kawasan Jalan Pemuda, khususnya di area kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya.
Memulai langkahnya sejak September 2009, Mbak Yani mengaku awal mulanya harus berjuang ekstra keras dengan menjajakan jamunya secara keliling. Saat pertama kali merintis usaha 17 tahun lalu, ia sama sekali belum memiliki pelanggan tetap dan harus berpindah-pindah tempat menyusuri jalanan kota.
Nasib baik dan konsistensi rasa membawa Mbak Yani bertemu dengan takdirnya di kawasan sekitar kantor RRI Surabaya. Ia menceritakan bagaimana awal mula dirinya bisa mendapatkan tempat menetap yang strategis seperti sekarang.
"Awal-awalnya ya kita berhenti sejenak, terus dicegat sama orang-orang RRI. Akhirnya lama-kelamaan, orang-orang kantor Wisma BI (Bank Indonesia) sama kantor lain saling beli. Karena banyak yang cocok, akhirnya saya memutuskan untuk mandek (berhenti) jualan di dekat kantor RRI ini," ujar Mbak Yani sembari tersenyum mengenang masa lalunya.
Keputusan tersebut ternyata berbuah manis. Sejak saat itu, gerobak jamunya selalu ramai dipadati pembeli. Tak hanya mengandalkan menu jamu sebagai komoditas utama, Mbak Yani juga jeli melihat peluang dengan menyediakan menu pendamping yang tak kalah diburu pembeli saat jam istirahat atau sarapan, seperti nasi bungkus, aneka jajan pasar, dan gorengan hangat.
Ketika ditanya mengenai rahasia racikannya yang membuat pelanggan setianya terus kembali, Mbak Yani merendah dan menyebut bahwa teknik pembuatannya tergolong umum layaknya membuat sinom atau gula asem tradisional pada umumnya. Namun, ia meyakini setiap tangan memiliki sentuhan rasa tersendiri yang membedakan produknya dari penjual lain.
Hal ini diamini oleh salah seorang pembeli setia yang tengah mengantre di gerobaknya. Menurutnya, jamu buatan Mbak Yani memiliki karakteristik khas yang sulit ditemukan di tempat lain.
"Jamunya enak dan segar sekali. Manisnya pas, tidak berlebihan. Terus yang paling penting, jamunya itu bersih, enggak terlalu butek (keruh). Jadi rasanya benar-benar enak dan nyaman di tenggorokan," ungkap Disma seorang pelanggan dengan antusias.
Selain keunggulan rasa dan kebersihan produk, faktor harga yang sangat ramah kantong menjadi daya tarik utama lainnya. Sembari berkelakar, Mbak Yani membenarkan bahwa dagangannya disukai karena menganut prinsip "murah meriah, mantap". Untuk satu bungkus jamu segar, Mbak Yani hanya membanderol harga sebesar Rp3.000. Sementara bagi pelanggan yang ingin membawa pulang dalam porsi lebih besar atau untuk stok di meja kerja, ia menyediakan kemasan botol dengan harga Rp8.000 saja.
Selain deretan botol kaca legendaris berisi kunyit asam, beras kencur, hingga pahitan, gerobak sepedanya dipenuhi oleh berbagai macam kantong plastik transparan yang menggantung. Isinya sangat kontras namun saling melengkapi, diantaranya: Aneka Gorengan & Jajanan Pasar: Mulai dari bakwan, tahu isi, hingga jajanan pasar tradisional yang dibungkus rapi. Kerupuk & Camilan Renyah: Berbagai jenis kerupuk pemeriah makan siang bergantung penuh di sisi depan gerobak. Lauk Pauk Instan: Beberapa bungkus makanan siap santap juga siap dipinang oleh pelanggan yang tidak sempat memasak di rumah.
"Biar pelanggan sekali datang langsung dapat semua, Mas. Habis minum jamu yang pahit, bisa langsung makan yang manis atau gurih," ujar Mbak Yani sembari tersenyum ramah melayani pembeli.
Uniknya, karena mayoritas pelanggannya adalah aparatur sipil dan pegawai swasta, waktu operasional gerobak jamu Mbak Yani pun ikut menyesuaikan jadwal kerja perkantoran:
Eksistensi Mbak Yani yang konsisten sejak 2009 ini membuktikan bahwa jamu tradisional herbal bukan sekadar pelengkap minuman masa lalu, melainkan sebuah kebutuhan kesehatan yang dikemas secara merakyat dan terus dirindukan di tengah kesibukan masyarakat perkantoran modern Surabaya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....