Rempeyek Kacang, Jejak Kuliner Tradisional Jawa

  • 23 Apr 2026 10:15 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Rempeyek kacang mungkin terlihat sederhana—hanya perpaduan tepung beras, kacang tanah, dan rempah yang digoreng hingga renyah. Namun di balik kerenyahannya, camilan ini menyimpan sejarah panjang yang tercatat dalam literatur kuliner Indonesia, salah satunya dalam buku “Riwayat Kuliner Indonesia: Asal-usul, Tokoh, Inspirasi, dan Filosofi” karya Badiatul Muchlisin Asti.

Dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa kuliner Nusantara lahir dari proses panjang interaksi budaya, tradisi lokal, serta pemanfaatan bahan pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat. Rempeyek menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat Jawa mengolah bahan sederhana menjadi makanan bernilai budaya tinggi.

Sejarah rempeyek sendiri tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat Jawa tempo dulu. Dalam berbagai catatan kuliner tradisional, termasuk yang dirangkum dalam buku tersebut, rempeyek sudah dikenal sejak masa kerajaan di Jawa, khususnya sekitar era Kesultanan Mataram.

Makanan ini hadir sebagai pelengkap hidangan rakyat, bukan sebagai sajian utama, melainkan pendamping yang menambah rasa gurih dalam santapan sehari-hari. Pada masa itu, masyarakat memanfaatkan bahan pangan lokal seperti beras dan kacang tanah yang mudah didapat.

Tepung beras dijadikan adonan utama, sementara kacang tanah berfungsi sebagai sumber protein sekaligus penambah cita rasa. Teknik menggoreng tipis di pinggir wajan yang masih digunakan hingga kini menunjukkan bahwa metode memasak tradisional telah diwariskan secara turun-temurun tanpa banyak perubahan.

Buku karya Badiatul Muchlisin Asti juga menekankan bahwa kuliner seperti rempeyek bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari identitas budaya. Setiap proses pembuatannya mencerminkan kearifan lokal—mulai dari pemilihan bahan, penggunaan rempah, hingga teknik memasak.

Dalam konteks ini, rempeyek kacang menjadi simbol kreativitas masyarakat dalam mengolah keterbatasan menjadi kelezatan. Nama “peyek” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang menirukan bunyi renyah saat makanan ini dipatahkan.

Hal ini menunjukkan bahwa bahkan penamaan makanan pun lahir dari pengalaman inderawi masyarakat yang sangat dekat dengan keseharian mereka. Seiring perkembangan zaman, rempeyek kacang tidak lagi hanya ditemukan di dapur-dapur rumah tradisional.

Ia telah berkembang menjadi produk industri rumahan hingga skala besar, bahkan menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara. Meski demikian, nilai historisnya tetap melekat sebagai warisan kuliner Jawa yang otentik.

Kini, ketika rempeyek hadir di meja makan sebagai pelengkap pecel atau sekadar camilan sore, sesungguhnya kita sedang menikmati bagian kecil dari sejarah panjang budaya Nusantara. Dari catatan dalam buku sejarah kuliner hingga praktik yang masih lestari di masyarakat, rempeyek kacang membuktikan bahwa makanan sederhana pun dapat menyimpan cerita besar tentang perjalanan sebuah bangsa.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....