Nastar: Jejak Sejarah Kue Lebaran yang Berakar dari Tradisi Eropa

  • 14 Apr 2026 15:17 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Di setiap perayaan Lebaran di Indonesia, kehadiran kue nastar hampir selalu menjadi pelengkap yang tak tergantikan. Bentuknya yang mungil dengan isian selai nanas yang manis-asam menghadirkan cita rasa khas yang begitu lekat dengan suasana hari raya. Namun, di balik kelezatannya, nastar menyimpan perjalanan sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri.

Secara etimologis, nama “nastar” berasal dari bahasa Belanda, yaitu ananas yang berarti nanas dan taart yang berarti kue atau tart. Hal ini menunjukkan bahwa nastar memiliki akar kuat dari pengaruh kuliner Eropa, khususnya Belanda, yang masuk ke Indonesia pada masa kolonial. Pada masa itu, masyarakat Belanda gemar mengonsumsi kue-kue tart berisi buah-buahan seperti apel, stroberi, dan blueberry.

Namun, ketika budaya tersebut beradaptasi di Indonesia, terjadi penyesuaian bahan sesuai dengan kondisi lokal. Buah-buahan khas Eropa yang sulit ditemukan digantikan dengan nanas yang melimpah di wilayah tropis. Dari sinilah lahir inovasi kue tart mini berisi selai nanas yang kemudian dikenal sebagai nastar.

Perubahan tidak hanya terjadi pada isiannya, tetapi juga pada ukuran dan bentuk. Jika tart ala Eropa berukuran besar, nastar dibuat dalam ukuran kecil agar lebih praktis disajikan dan dinikmati. Selain itu, tekstur kue yang lembut dan lumer di mulut menjadi ciri khas yang terus dipertahankan hingga kini.

Menurut sejarawan kuliner Indonesia, Fadly Rahman, dalam bukunya Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia, nastar merupakan contoh nyata akulturasi budaya dalam dunia kuliner. Ia menjelaskan bahwa banyak makanan Indonesia yang lahir dari proses adaptasi budaya asing dengan bahan lokal, termasuk kue-kue kering yang populer saat ini. Nastar menjadi simbol bagaimana masyarakat Indonesia mampu mengolah pengaruh luar menjadi sesuatu yang baru dan khas.

Seiring waktu, nastar tidak hanya hadir saat Lebaran, tetapi juga menjadi bagian dari berbagai perayaan seperti Natal dan Imlek. Bahkan, inovasi terus berkembang dengan munculnya berbagai varian isian, mulai dari keju, cokelat, hingga selai buah lainnya. Meski begitu, nastar klasik dengan isian nanas tetap menjadi favorit banyak orang.

Kini, nastar bukan sekadar kue kering, melainkan bagian dari tradisi dan kenangan. Aroma khasnya yang tercium saat dipanggang sering kali membangkitkan suasana hangat kebersamaan keluarga. Dari dapur-dapur rumah hingga industri rumahan, nastar terus diproduksi dan diwariskan lintas generasi.

Dengan perjalanan sejarah yang panjang, nastar menjadi bukti bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang identitas, budaya, dan adaptasi. Di balik setiap gigitan nastar, tersimpan cerita tentang pertemuan budaya yang kemudian membentuk salah satu ikon kuliner Indonesia yang paling dicintai.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....