Wingko Babat, Kudapan Kelapa Legendaris dari Pesisir Jawa

  • 10 Apr 2026 14:45 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Di antara beragam jajanan tradisional Nusantara, wingko babat menempati tempat tersendiri di hati masyarakat. Kue berbentuk bulat pipih dengan aroma kelapa yang harum ini sering dijadikan oleh-oleh khas ketika seseorang berkunjung ke Semarang. Namun di balik rasa manis dan gurihnya, wingko memiliki sejarah panjang yang berawal dari sebuah kota kecil di Jawa Timur.

Secara umum, wingko adalah kue tradisional yang dibuat dari campuran tepung ketan, kelapa parut, dan gula. Adonan tersebut kemudian dipanggang hingga menghasilkan tekstur yang padat, sedikit renyah di luar namun lembut di dalam. Hidangan ini dikenal luas di berbagai wilayah Indonesia, terutama di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa.

Menurut kajian sejarah kuliner yang dimuat dalam jurnal akademik Intangible Conservation: Keberadaan Wingko Babat Kuliner Khas Semarang Tahun 1946-2019, asal mula wingko sebenarnya berasal dari daerah Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa sekitar tahun 1898, seorang perantau keturunan Tionghoa bernama Loe Soe Siang bersama istrinya Djoa Kiet Nio mulai membuat kue berbahan kelapa dan tepung ketan yang kemudian dikenal sebagai wingko.

Pada masa itu, Babat merupakan kawasan perdagangan yang cukup ramai karena berada di jalur transportasi penting di pesisir utara Jawa. Kehadiran para pedagang dari berbagai daerah dan latar belakang budaya membuat banyak terjadi percampuran tradisi, termasuk dalam hal kuliner. Dari perpaduan bahan lokal seperti kelapa dan beras ketan dengan teknik pengolahan yang dibawa para pendatang, lahirlah kue wingko yang kemudian menjadi populer di masyarakat sekitar.

Awalnya wingko hanya diproduksi secara sederhana oleh keluarga pembuatnya. Namun rasa gurih manisnya cepat dikenal oleh masyarakat yang melintas di jalur perdagangan tersebut. Seiring waktu, kue ini mulai diproduksi lebih banyak dan dijual kepada para pelancong maupun pedagang yang singgah di Babat.

Popularitas wingko semakin meningkat ketika jalur kereta api berkembang di wilayah pantai utara Jawa. Kue ini kerap dijajakan oleh pedagang di stasiun atau di dalam kereta sebagai camilan perjalanan. Dari sinilah wingko mulai dikenal luas hingga ke kota-kota besar, termasuk Semarang.

Meski berasal dari Babat, wingko justru lebih dikenal sebagai oleh-oleh khas Semarang. Hal ini tidak lepas dari perkembangan perdagangan dan industri makanan di kota pelabuhan tersebut. Banyak pengusaha kuliner kemudian memproduksi wingko secara besar-besaran di Semarang karena kota ini menjadi pusat distribusi dan jalur transportasi yang strategis.

Dalam penelitian sejarah kuliner tersebut disebutkan bahwa keberadaan produsen wingko di Semarang mulai berkembang sejak sekitar tahun 1946. Sejak saat itu berbagai merek wingko bermunculan dan semakin menguatkan citra makanan ini sebagai ikon kuliner kota tersebut.

Hingga kini, wingko babat masih menjadi salah satu jajanan tradisional yang digemari. Selain rasa kelapa yang khas, kue ini juga memiliki daya tahan yang cukup lama sehingga cocok dijadikan oleh-oleh. Banyak produsen bahkan berinovasi dengan berbagai varian rasa seperti cokelat, durian, atau nangka, tanpa meninggalkan resep dasar yang sudah diwariskan sejak lebih dari satu abad lalu.

Sejarah wingko menunjukkan bagaimana sebuah makanan sederhana dapat menjadi bagian dari identitas budaya suatu daerah. Berawal dari dapur keluarga di Babat, Lamongan, kue kelapa ini kini dikenal luas sebagai salah satu kuliner legendaris dari pesisir Jawa. Di setiap gigitan wingko, tersimpan cerita tentang perjalanan budaya, perdagangan, dan kreativitas masyarakat yang terus menjaga warisan kuliner Nusantara.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....