Kue Talam Tak Lekang Dimakan Waktu

  • 01 Des 2025 18:06 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Kue Talam, salah satu jajanan pasar tradisional Indonesia, terus memikat lidah penikmatnya dari generasi ke generasi. Kudapan yang umumnya dikukus ini memiliki ciri khas berupa tekstur kenyal dan kombinasi rasa manis gurih yang unik, menjadikannya primadona dalam berbagai acara, mulai dari santai sore hingga perayaan besar.

Kehadirannya yang mudah ditemukan di pasar tradisional membuktikan bahwa di tengah gempuran dessert modern, Kue Talam tetap memegang teguh posisinya sebagai ikon kuliner nusantara yang otentik.

Kunci kelezatan Kue Talam terletak pada dua lapisannya yang kontras namun harmonis. Lapisan bawah biasanya terbuat dari tepung beras atau tepung singkong yang dicampur santan dan gula, menghasilkan rasa manis yang legit. Sementara itu, lapisan atas, yang berwarna putih, umumnya hanya terbuat dari santan kental, tepung beras, dan sedikit garam. Sentuhan garam pada lapisan atas inilah yang memberikan elemen gurih, menyeimbangkan rasa manis dari lapisan bawah, sehingga menciptakan sensasi rasa yang kompleks dan memuaskan.

Beberapa varian populer meliputi Talam Ubi Ungu, Talam Labu Kuning, Talam Pandan (berwarna hijau), dan bahkan Talam Ebi (dengan taburan udang kering) yang cenderung gurih. Keanekaragaman ini menunjukkan fleksibilitas Kue Talam sebagai media kreasi kuliner, namun inti dari resepnya perpaduan tepung dan santan yang dikukus tetap dipertahankan.

Popularitas Kue Talam bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena proses pembuatannya yang relatif sederhana dan bahan-bahan yang mudah didapatkan. Alat utama yang dibutuhkan hanyalah cetakan kecil (seringkali berbentuk mangkuk) dan alat pengukus. Meskipun demikian, untuk mendapatkan tekstur yang sempurna – kenyal, lembut, dan tidak lengket diperlukan keahlian dan ketelitian, terutama dalam menakar perbandingan tepung dan santan serta memastikan waktu pengukusan yang tepat.

Kue Talam seringkali menjadi bagian tak terpisahkan dari acara adat dan perayaan. Sebagai simbolisasi kekayaan dan kemakmuran, Kue Talam disajikan sebagai hidangan penutup yang disukai banyak orang.

Melestarikan Kue Talam berarti melestarikan warisan kuliner bangsa. Meskipun tantangan muncul dari serbuan produk makanan instan, para pelaku UMKM dan pegiat kuliner terus berupaya menjaga resep otentik ini. Diharapkan, dengan inovasi rasa dan penyajian, Kue Talam akan terus dinikmati oleh generasi mendatang, membuktikan bahwa kenikmatan sejati seringkali datang dari kesederhanaan bahan dan proses yang diwariskan turun-temurun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....