Warteg, Ikon Kuliner Murah Meriah Indonesia

  • 29 Sep 2025 15:23 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Siapa yang tidak kenal warteg? Warung Tegal sudah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Menurut KBBI, “warung” berarti tempat kecil yang menjual makanan atau barang kebutuhan, sedangkan “Tegal” merujuk pada sebuah kota di Jawa Tengah. Namun yang menarik, mengapa istilah ini justru melekat pada Tegal, padahal pendatang dari berbagai daerah juga ikut meramaikan usaha serupa di ibu kota?

Dalam sebuah penelitian, Rinda Asytuti (2015) menyebut warung Tegal sebagai bentuk usaha kuliner mikro yang tumbuh di perkotaan. Sederhananya, warteg hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat urban, makanan cepat saji dengan harga terjangkau, namun tetap mengenyangkan.

Fenomena ini juga pernah diulas dalam laman indonesia.go.id, yang menegaskan bahwa keberadaan warteg tak bisa dilepaskan dari dinamika kehidupan kota.

Jejak sejarahnya pun panjang. Sejak Batavia berkembang sebagai pusat perdagangan, arus urbanisasi membawa banyak orang dari Jawa hingga Sumatra ke kota. Mereka datang dengan budaya masing-masing, termasuk kebiasaan makan.

Catatan Stamford Raffles dalam History of Java menggambarkan bagaimana orang Jawa sudah terbiasa sarapan di “warongs”, tempat kecil yang menjual kopi dan kudapan, sejak awal abad ke-19.

Kini, warteg tidak lagi sekadar tempat makan murah meriah. Lebih dari itu, ia menjadi saksi percampuran budaya di kota besar, dari masa kolonial sampai era modern. Kesederhanaannya justru membuat warteg tetap bertahan, bahkan menjadi simbol identitas masyarakat urban.

Dengan rasa yang apa adanya dan suasana akrab yang ditawarkan, warteg selalu punya alasan bagi siapa saja untuk kembali datang dan menikmatinya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....