Benarkah Rajin Bergerak Bisa Turunkan Resiko Demensia pada Lansia?
- 05 Okt 2026 12:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Demensia bukanlah bagian normal dari penuaan, melainkan kondisi penurunan fungsi otak yang memengaruhi daya ingat, cara berpikir, hingga kemampuan berkomunikasi yang cukup berat sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Kabar baiknya, berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa risiko demensia pada lansia dapat ditekan secara signifikan melalui aktivitas fisik yang rutin. Pertanyaannya, benarkah rajin bergerak bisa menurunkan risiko demensia pada lansia?
Sebuah studi longitudinal yang dipublikasikan di Innovation in Aging (2023) mengikuti partisipan berusia 70 hingga 95 tahun selama lebih dari tiga dekade. Penelitian tersebut menemukan bahwa kelompok lansia yang aktif secara fisik memiliki risiko demensia yang jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak aktif. Pada usia 85 tahun, frekuensi demensia pada kelompok aktif hanya 10,6 persen, sementara pada kelompok tidak aktif mencapai 48,5 persen.
Analisis lebih lanjut dari studi yang sama menunjukkan bahwa aktivitas fisik tetap memberikan efek perlindungan pada usia yang sangat lanjut. Temuan ini menegaskan bahwa tidak ada batas usia atas untuk manfaat kognitif dari aktivitas fisik.
Penelitian yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Directors Association (2025) menganalisis data dari 89.667 partisipan UK Biobank dengan rata-rata usia 63 tahun. Setiap tambahan 30 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat per minggu dikaitkan dengan penurunan risiko demensia sebesar 4 persen. Bahkan mereka yang hanya melakukan aktivitas minimal pun sudah menunjukkan penurunan risiko, dibandingkan kelompok tanpa aktivitas sama sekali yang memiliki risiko tinggi.
Menariknya, manfaat aktivitas fisik terhadap risiko demensia tidak terbatas pada lansia yang sehat dan bugar saja. Studi UK Biobank tersebut menemukan bahwa efek perlindungan ini konsisten baik pada lansia yang mengalami frailty (kerapuhan) maupun yang tidak. Artinya, rajin bergerak tetap bermanfaat bahkan bagi lansia yang kondisinya sudah lemah sekalipun. Temuan ini diperkuat oleh penelitian lain yang menunjukkan bahwa mengganti waktu duduk dengan aktivitas fisik ringan hingga berat dapat menurunkan risiko demensia hingga 2 hingga 5 persen.
Dari sisi mekanisme, aktivitas fisik membantu menjaga kesehatan otak melalui berbagai jalur. Olahraga meningkatkan aliran darah ke otak, mendukung pemeliharaan volume hipokampus (area otak yang berperan dalam memori), serta memperkuat plastisitas sinapsis melalui peningkatan kadar brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Aktivitas fisik juga membantu mengendalikan faktor risiko vaskular seperti hipertensi dan diabetes yang selama ini dikenal meningkatkan risiko demensia.
Laman resmi ayosehat.kemkes.go.id juga menegaskan, bahwa demensia bisa diperlambat bahkan dicegah sejak muda melalui gaya hidup sehat. Rutin berolahraga, tidur cukup, makan bergizi, bersosialisasi, dan terus belajar hal baru menjadi kunci utama menjaga fungsi otak tetap optimal. Pesan ini sejalan dengan temuan ilmiah bahwa otak perlu terus "dilatih" agar tetap terjaga fungsinya seiring bertambahnya usia.
Kesimpulannya, rajin bergerak memang terbukti secara ilmiah dapat menurunkan risiko demensia pada lansia. Mulailah dengan aktivitas ringan seperti jalan kaki, berkebun, atau menari, yang tidak hanya menyehatkan fisik tetapi juga merangsang fungsi kognitif dan sosial. Yang terpenting bukanlah intensitasnya yang berat, melainkan konsistensi untuk terus bergerak di setiap tahap kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....