Morula IVF Dorong Pasangan Rencanakan Kehamilan Sejalan dengan Karier

  • 20 Sep 2026 18:00 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Morula IVF Surabaya mendorong pasangan merencanakan kehamilan bersamaan dengan karier, termasuk mempertimbangkan usia dan kondisi kesuburan.
  • Dokter menyebut kesuburan dipengaruhi usia, faktor pria dan perempuan, gaya hidup, lingkungan, sosial ekonomi, serta akses informasi.
  • Morula IVF Surabaya menyebut telah memberikan konsultasi dan USG gratis kepada 694 pasien dalam empat hingga lima bulan terakhir.

RRI.CO.ID, Surabaya- Perencanaan kehamilan dinilai perlu berjalan beriringan dengan perencanaan karier, terutama bagi pasangan di perkotaan. Morula IVF Surabaya mengangkat isu tersebut melalui edukasi bertajuk “Future Family Planning: Balancing Career & Parenthood”.

Dokter Obgyn Morula IVF Indonesia, dr. Benediktus Arifin mengatakan, banyak pasangan mempersiapkan pernikahan, tetapi belum merencanakan kehamilan. “Jadi salah satu acara kali ini adalah gimana kita berusaha untuk menggerakkan bahwa pasangan-pasangan yang menikah ini merencanakan kehamilannya,” ujarnya.

Menurut Benediktus, perencanaan kehamilan sebaiknya berjalan bersamaan dengan rencana masa depan dan karier. Ia menyebut teknologi membantu pasangan menjalani program hamil, mulai program alami, inseminasi, hingga bayi tabung.

Benediktus mengatakan, penurunan angka kelahiran dipengaruhi usia pernikahan yang semakin mundur. Selain perempuan, pria juga perlu memperhatikan kondisi kesuburan sebelum maupun setelah menikah.

“Masalah fertilitas itu bukan hanya masalah wanita. Pria pun demikian,” kata Benediktus. Ia juga menyebut faktor sosial ekonomi, budaya, serta akses informasi turut memengaruhi keputusan pasangan memiliki anak.

Konsultan Fertilitas Morula IVF Indonesia, Prof. Dr. dr. Budi Santoso mengatakan, penurunan angka kelahiran menjadi fenomena global. Menurutnya, angka fertilitas Indonesia sekitar 2,1 masih berada pada batas ideal untuk mempertahankan jumlah penduduk.

Budi menyoroti usia perempuan karena cadangan sel telur menurun ketika usia memasuki 35 tahun. Ia juga menyebut risiko kelainan kongenital dan keguguran meningkat pada kehamilan setelah usia tersebut.

“Bagaimana kita tetap memprogram kehamilan bahkan sampai IVF tanpa mengorbankan karirnya,” ujar Budi. Menurutnya, pasangan perlu mengatur rencana memiliki anak sambil tetap menjalankan pekerjaan dan karier.

Konsultan Fertilitas Morula IVF Indonesia, dr. Jimmy Yanuar Annas mengatakan, program kehamilan perlu memiliki target dan batas waktu evaluasi. “Yang penting kita harus punya target dan terus apa harus punya timeline, sampai kapan kita menunggu alami,” katanya.

Jimmy menyarankan pasangan mencari pertolongan setelah satu tahun berhubungan teratur namun belum mengalami kehamilan. Evaluasi lebih awal diperlukan bagi pasangan dengan faktor risiko, termasuk usia menikah di atas 35 tahun.

Konsultan Fertilitas Morula IVF Indonesia, dr. Achmad Rheza menyebut angka fertilitas Surabaya dan Mojokerto telah sekitar 1,7.Ia mengatakan informasi mengenai penyebab dan pilihan program kehamilan perlu terus diberikan kepada masyarakat.

Head of Division Morula IVF Surabaya, Arik Lisarja mengatakan akses informasi menjadi salah satu perhatian pihaknya. Dalam empat hingga lima bulan terakhir, Morula memberikan konsultasi dan USG gratis kepada 694 pasien.

Arik mengatakan layanan tersebut bertujuan mendorong masyarakat melakukan deteksi lebih dini terkait kondisi kesuburan. Morula juga menyediakan layanan melalui dokter di Mojokerto, Bangkalan, dan Malang untuk mendekatkan akses konsultasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....