Teknologi Kesehatan Harus Tetap Berpusat pada Manusia

  • 20 Sep 2026 17:59 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Perkembangan teknologi kesehatan perlu berjalan beriringan dengan bukti ilmiah dan pendekatan yang tetap menempatkan manusia sebagai pusat pelayanan. Kemajuan teknologi dinilai tidak cukup jika penerapannya justru mengurangi sentuhan kemanusiaan, hal itu dibahas dalam International Conference on Health Administration and Policy (ICoHAP).

Ketua Panitia ICoHAP 2026, dr. Hilmy Razhan Muhammad, mengatakan keseimbangan antara ketiga aspek tersebut penting dalam merancang fasilitas dan pelayanan kesehatan yang lebih baik. Bukti ilmiah menjadi dasar pengambilan keputusan, teknologi mendukung pengembangan layanan, sedangkan pendekatan human-centered memastikan kebutuhan pasien tetap menjadi perhatian.

“Ketiga aspek tersebut diharapkan dapat berjalan secara seimbang dan saling melengkapi, bukan saling mendahului. Jadi, teknologi tidak boleh menghilangkan sentuhan kemanusiaan dalam pelayanan kesehatan,” kata Hilmy, Minggu 20 September 2026.

Sinergi tersebut juga diarahkan untuk mempertemukan berbagai pihak dalam membahas perkembangan administrasi dan kebijakan kesehatan. Hasil penelitian dan gagasan yang disampaikan diharapkan tidak berhenti pada forum akademik, tetapi dapat berkembang menjadi kolaborasi dan inovasi.

“Harapannya, ilmu dan hasil penelitian yang disampaikan tidak berhenti hanya di forum ini, tetapi dapat berkembang menjadi kolaborasi dan inovasi. Bahkan, ke depannya hasil dari forum ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi kebijakan yang memberikan dampak nyata terhadap pelayanan kesehatan dan masyarakat,” ujar Hilmy.

Di sisi lain, pertukaran pengetahuan antarnegara dapat memberikan perspektif mengenai penerapan sistem kesehatan dengan karakteristik yang berbeda. Perbedaan sistem pembiayaan dan kapasitas ekonomi menjadi salah satu aspek yang dapat dipelajari untuk melihat peluang perbaikan sistem kesehatan di Indonesia.

“Dari perbedaan tersebut, kita dapat bertukar pengetahuan dan melihat hal-hal apa yang mungkin bisa menjadi pembelajaran untuk memperbaiki sistem kesehatan di Indonesia,” kata Koordinator Program Studi Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) FKM UNAIR, Dr. Ernawaty, drg., M.Kes.

Keterlibatan mahasiswa juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi di bidang Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK). Selain memperoleh pengalaman akademik, mahasiswa S2 AKK terlibat langsung sebagai panitia sehingga dapat membangun jejaring dan memperoleh pengalaman dalam penyelenggaraan konferensi internasional.

“Melalui penyelenggaraan konferensi internasional seperti ini, kami ingin mahasiswa S2 tidak hanya mendapatkan manfaat secara ilmiah atau akademik. Tetapi juga dapat membangun jejaring dan meningkatkan kompetensinya di bidang Administrasi dan Kebijakan Kesehatan,” ujar Ernawaty.

Hal tersebut menjadi bagian dari The 8th International Conference on Health Administration and Policy (ICoHAP) 2026 yang mengangkat tema “Reimagining Healthcare: Synergizing Evidence-Based Governance, Technology, and Human-Centered Healthcare for a Better Future”. Konferensi ini diikuti 158 peserta dari Indonesia dan Timor-Leste, dengan pembicara dari Indonesia, Malaysia, Abu Dhabi, dan Singapura.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....