Apa itu Skoliosis? Yuk Kenali Penyebabnya
- 09 Sep 2026 15:49 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Skoliosis adalah kondisi medis di mana tulang belakang melengkung secara tidak normal ke samping, membentuk huruf "S" atau "C". Kelainan ini dapat terjadi pada siapa saja, tetapi paling sering muncul pada anak-anak dan remaja menjelang masa pertumbuhan. Kondisi ini mempengaruhi sekitar 2-3 persen populasi global, dengan mayoritas kasus terdeteksi pada masa remaja.
Skoliosis terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan penyebabnya. Jenis yang paling umum adalah skoliosis idiopatik, yang mencakup sekitar 80 persen kasus dan penyebab pastinya tidak diketahui. Skoliosis kongenital terjadi akibat kelainan struktur tulang belakang sejak dalam kandungan, seperti hemivertebra atau fusi vertebra. Sementara itu, skoliosis neuromuskular disebabkan oleh gangguan pada sistem saraf atau otot, seperti pada penderita cerebral palsy atau distrofi otot.
Melansir keslan.kemkes.go.id dijelaskan bahwa faktor keturunan memegang peranan penting dalam skoliosis idiopatik. Anak dengan riwayat keluarga penderita skoliosis memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Selain itu, ketidakseimbangan hormon pertumbuhan dan melatonin juga diduga mempengaruhi perkembangan skoliosis pada masa remaja.
Jenis skoliosis degeneratif terjadi pada orang dewasa akibat proses penuaan dan keausan pada tulang belakang. Kondisi ini sering berhubungan dengan radang sendi atau osteoporosis yang melemahkan struktur tulang. Ada pula skoliosis fungsional yang bersifat sementara, disebabkan oleh kejang otot, peradangan, atau perbedaan panjang kaki.
Beberapa faktor risiko skoliosis perlu diwaspadai, terutama pada masa pertumbuhan pesat. Skoliosis idiopatik paling sering muncul pada usia 10-15 tahun, yaitu masa pubertas. Perempuan memiliki risiko 10 kali lebih tinggi mengalami kelengkungan tulang belakang yang signifikan dibandingkan laki-laki. Cedera atau infeksi pada tulang belakang juga dapat menjadi pemicu kelainan struktur yang berujung pada skoliosis.
Kebiasaan postur sehari-hari dapat mempengaruhi kondisi skoliosis, meskipun tidak secara langsung menyebabkannya. Kebiasaan duduk membungkuk atau membawa beban yang tidak seimbang dapat memperburuk kelengkungan pada skoliosis fungsional atau memperparah gejala yang ada. Deteksi dini sangat penting untuk mencegah peningkatan kelainan dan komplikasi jangka panjang seperti gangguan postur tubuh, nyeri kronis, hingga gangguan fungsi organ.
Gejala skoliosis yang perlu diwaspadai antara lain posisi bahu yang tidak seimbang, tulang belikat yang menonjol, panggul yang miring, dan lengkungan tulang belakang yang terlihat jelas. Jika Anda atau anggota keluarga mengalami tanda-tanda tersebut, segera periksakan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Penanganan dini akan mencegah kelengkungan semakin parah dan meningkatkan kualitas hidup penderita skoliosis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....