Debu Vulkanik dan Bahayanya jika Terhirup

  • 08 Sep 2026 15:31 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Erupsi Gunung Anak Krakatau belum lama ini menyebarkan abu vulkanik ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Abu vulkanik berbeda dengan debu biasa karena mengandung partikel halus dari batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang sangat berbahaya jika terhirup manusia. Partikel berukuran PM10 dan PM2.5 ini dapat masuk hingga ke saluran pernapasan bagian dalam dan mengganggu fungsi paru-paru.

Paparan abu vulkanik dapat menyebabkan tiga dampak utama bagi kesehatan, yaitu gangguan pernapasan, iritasi mata, dan iritasi kulit. Gejala yang muncul antara lain batuk, bersin, nyeri tenggorokan, mata perih dan berair, serta kulit terasa gatal . Pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit paru atau jantung, dampaknya bisa jauh lebih serius.

Partikel abu vulkanik yang terhirup dapat memicu peradangan di saluran napas dan memperburuk kondisi penyakit paru kronis seperti asma dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis). Dalam kasus paparan berat, abu vulkanik bahkan dapat menyebabkan sesak napas dan sensasi seperti tercekik (asfiksia). Selain itu, kandungan silika tajam dalam abu vulkanik juga membahayakan paru-paru jika terhirup dalam jumlah banyak dan dalam waktu lama.

Paparan abu vulkanik juga sangat berbahaya bagi mata dan kulit. Partikel abu yang masuk ke mata dapat menyebabkan iritasi, mata merah, berair, dan jika digosok dapat memperparah iritasi hingga menyebabkan konjungtivitis. Untuk kulit, abu vulkanik yang mengandung partikel tajam dapat menyebabkan gatal, iritasi, dan peradangan jika tidak segera dibersihkan dengan air.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin seperti dilansir dari website kemkes.go.id, juga memberikan instruksi terkait penanganan awal apabila warga terpapar abu vulkanik, terutama pada area sensitif seperti mata dan kulit.

“Kalau debu sudah masuk ke mata, jangan dikucek. Bersihkan dengan air dan bila perlu gunakan obat tetes mata. Semua puskesmas sudah kita siapkan untuk menangani kondisi tersebut,” kata Budi.

Ia juga menyarankan warga segera membersihkan tubuh dan pakaian setelah beraktivitas di luar rumah karena partikel abu vulkanik bersifat tajam. Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama sebaran abu vulkanik masih terjadi. Jika terpaksa keluar rumah, gunakan masker N95 atau KN95 yang mampu menyaring partikel halus, serta kacamata pelindung untuk melindungi mata. Masker kain biasa tidak memberikan perlindungan optimal terhadap partikel abu vulkanik yang sangat kecil.

Setelah beraktivitas di luar rumah, segera bersihkan tubuh, wajah, dan hidung dengan air bersih secara hati-hati karena partikel abu dapat memiliki sisi tajam. Tutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah untuk mencegah abu masuk, serta basahi abu yang menumpuk sebelum dibersihkan agar partikel tidak beterbangan lagi. Jangan lupa tutup wadah makanan dan minuman agar tidak terkontaminasi abu vulkanik.

Jika mengalami gejala seperti sesak napas, batuk yang tidak membaik, nyeri dada, iritasi mata yang berat, atau gangguan pernapasan lainnya, segera periksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Kementerian Kesehatan telah menyiapkan nebulizer, oksigen konsentrator, obat tetes mata, dan salep kulit di puskesmas wilayah terdampak untuk menangani keluhan masyarakat. Dengan kewaspadaan dan langkah perlindungan yang tepat, risiko kesehatan akibat paparan abu vulkanik dapat diminimalkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....