RSD dr. Moeljono Catat Kasus Gangguan Mental pada Anak dan Remaja Meningkat

  • 27 Agt 2026 10:49 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Kasus percobaan bunuh diri dan gangguan kesehatan mental pada anak serta remaja di Jawa Timur menunjukkan peningkatan signifikan. Rumah Sakit Daerah (RSD) Prof. dr. Moeljono (RS Menur) Surabaya mencatat rata-rata 80 persen data percobaan bunuh diri didominasi oleh anak dan remaja di bawah usia 30 tahun.

Direktur RSD dr. Moeljono, drg. Vitria Dewi mengatakan, tren tersebut selalu menunjukkan adanya peningkatan. Sejak tahun 2022 sebanyak 1.570 kasus, tahun 2023 sebanyak 2.228 kasus, tahun 2024 sebanyak 11.088 kasus, dan tahun 2025 sebanyak 11.269 kasus.

Lebih ironis lagi, gangguan kesehatan mental yang membuat adanya percobaan bunuh diri mulai menyasar anak di bawah usia 18 tahun. "Untuk yang bunuh diri di usia yang kurang dari 18 tahun, itu kalau sekarang kami rata-rata di bulan Mei, Juni itu kami bisa sampai mengatakan 1 hari 1. Padahal dulu itu kami hanya mendapatkan kasus itu di hari Sabtu atau Minggu. Berarti 1 bulan paling 8 begitu ya. Sekarang kasus itu berjumlah bisa di 27 sampai 30," kata Vitria.

Terbaru bahkan, ada empat anak yang ditangani setelah berencana melakukan perrcobaan bunuh diri. Dari empat itu, tiga adalah laki-laki dan satu orang perempuan.

Lebih rinci, Vitria menyebutkan, kasus pada anak muda saat ini didominasi karena tiga hal. Akibat pengaruh game online, bullying, dan kecanduan pornografi.

"Apakah itu kasus percobaan bunuh diri, kasus ada bullying, pornografi, judi online, atau kecanduan game online, ini semua menunjukkan pertambahan peningkatan yang signifikan," ujarnya.

Dari berbagai kasus yang ditemukan, komunikasi dalam keluarga menjadi faktor utama. Sebab, dari temuan kebanyakan anak-anak kurang mendapat ruang komunikasi yang baik.

Kehadiran gadget dengan informasi yang terbuka luas juga menjadi penyebab. Sehingga, kehadiran keluarga dalam memberikan pendidikan, sebagai teman diskusi menjadi penting untuk mencegah gangguan mental pada anak.

"Tentu ini perlu gerakan yang semuanya satu kata dan satu persepsi. Supaya kalaupun ada penambahan, itu bukan yang langsung menjadi dua kali lipat, hampir tiga kali lipat. Nah, ini tentu satu keprihatinan luar biasa," katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....