Pentingnya Deteksi Dini dan Terapi Teratur HIV/AIDS
- 25 Agt 2026 10:10 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) masih menjadi perhatian serius di bidang kesehatan masyarakat. Untuk meningkatkan kesadaran publik, Pro 4 RRI Surabaya menggelar Dialog Kesehatan pada Selasa, 25 Agustus 2026 dengan menghadirkan dokter umum sekaligus health educator, dr. Yovita Alviana, S.Ked.
Dalam pemaparannya, dr. Yovita Alviana menjelaskan bahwa HIV merupakan virus yang secara spesifik merusak sistem kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Jika infeksi HIV tidak ditangani dengan baik dalam jangka panjang, kondisi tersebut akan berkembang menjadi AIDS, yaitu kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya daya tahan tubuh secara drastis.
"HIV itu adalah virusnya, sedangkan AIDS adalah kondisi stadium lanjut dari infeksi HIV tersebut. Ketika seseorang masuk tahap AIDS, tubuh menjadi sangat rentan terhadap berbagai infeksi menular dan penyakit komplikasi lainnya karena benteng pertahanan tubuhnya sudah lemah," ujar dr. Yovita Alviana dalam dialog interaktif tersebut.
Membahas tingkat bahayanya, dr. Yovita tidak menampik bahwa HIV/AIDS tergolong kondisi berisiko tinggi apabila diabaikan. Kerusakan sistem kekebalan tubuh membuat infeksi sekunder yang sepele dapat berkembang menjadi fatal. Namun, bahaya ini dapat ditekan secara signifikan jika pasien mendapatkan penanganan yang tepat sejak awal.
Terkait gejala, infeksi HIV dibagi menjadi beberapa fase. Pada tahap awal (infeksi akut), gejala kerap menyerupai flu biasa seperti demam, ruam kulit, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Masalah utama timbul karena penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala berat (asimtomatik) selama bertahun-tahun hingga akhirnya memasuki stadium AIDS dengan gejala penurunan berat badan drastis, diare kronis, dan infeksi paru-paru.
Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan medis secara spesifik sangat diperlukan melalui tes darah. "Diagnosis tidak bisa hanya mengandalkan pengamatan fisik semata. Seseorang harus menjalani tes HIV, seperti tes antibodi atau tes antigen-antibodi di fasilitas pelayanan kesehatan, untuk mengonfirmasi status infeksinya secara akurat," kata dr. Yovita.
Penularan HIV terjadi melalui pertukaran cairan tubuh tertentu, seperti darah, ASI, serta cairan vagina dan semen. Penularan umumnya terjadi melalui hubungan seksual berisiko tanpa pelindung, penggunaan jarum suntik steril secara bergantian, atau dari ibu hamil yang terinfeksi kepada bayinya. dr. Yovita menegaskan bahwa HIV tidak menular melalui kontak sosial harian seperti berjabat tangan, berbagi makanan, atau gigitan nyamuk.
Pencegahan penularan HIV dapat diterapkan melalui prinsip ABCDE: Abstinence (tidak melakukan hubungan seksual berisiko), Be faithful (setia pada satu pasangan), Condom (menggunakan kondom), Don't use drugs (menjauhi penyalahgunaan narkoba suntik), dan Education (aktif memperbarui informasi kesehatan).
Mengenai penanganan medis, dr. Yovita menjelaskan bahwa hingga saat ini HIV belum dapat disembuhkan secara total dalam arti virus dihilangkan sepenuhnya dari tubuh. Namun, perkembangan medis saat ini memungkinkan penderita HIV menjalani hidup berkualitas melalui Terapi Antiretroviral (ARV).
"Meskipun belum ada obat yang menyembuhkan total, penanganan HIV saat ini sangat maju melalui terapi obat Antiretroviral (ARV). Obat ini berfungsi menekan laju perkembangbiakan virus hingga tingkat yang tidak terdeteksi, sehingga sistem imun tetap terjaga dan pasien dapat beraktivitas normal serta produktif," tutur dr. Yovita memungkas dialog.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....