Mudah Tersulut Emosi ketika Berkendara, Pahami Fenomena Road Rage
- 24 Agt 2026 22:15 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Aksi emosional atau marah di tengah jalan raya masih kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit pengemudi yang terpancing emosi hanya karena kendaraannya disalip, didahului, atau jalurnya diterobos pengendara lain. Fenomena serupa juga sering terlihat di berbagai platform media sosial melalui rekaman aksi pengemudi yang terlibat perselisihan di jalan.
Dalam sejumlah kasus, emosi pengemudi bahkan berkembang menjadi tindakan berbahaya. Mulai dari membunyikan klakson secara berlebihan, mengejar kendaraan lain, menghalangi laju kendaraan, hingga sengaja menabrakkan kendaraan hanya karena persoalan sepele. Kondisi tersebut tidak hanya membahayakan pengemudi yang bersangkutan, tetapi juga pengguna jalan lainnya.
Dari sisi psikologis, kondisi tersebut dikenal dengan istilah road rage. Hal itu disampaikan Wenika, salah seorang psikolog dari Surabaya, saat dihubungi Pro1 melalui sambungan telepon, Senin 24 Agustus 2026. Menurutnya, road rage merupakan ledakan emosi ekstrem yang dapat muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggap mengganggu atau mengancam di jalan.
“Road rage adalah ledakan emosi ekstrem yang dialami seseorang di jalan. Sering kali pemicunya justru hal-hal kecil, seperti disalip, diklakson, atau terjebak kemacetan,” ujar Wenika.
Ia menjelaskan, secara psikologis kondisi tersebut berkaitan dengan respons otomatis tubuh ketika menghadapi sesuatu yang dianggap sebagai ancaman. Otak dapat masuk ke dalam mode fight or flight response, meskipun ancaman yang dihadapi sebenarnya relatif kecil. Situasi seperti cuaca panas, kemacetan, suara bising, hingga kelelahan setelah beraktivitas seharian juga dapat memperburuk kondisi emosional seseorang.
“Road rage bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti berteriak, mengejar kendaraan lain, sengaja menghalangi jalan, bahkan turun dari kendaraan untuk berkelahi. Dampaknya tentu sangat serius, mulai dari kecelakaan, perkelahian, hingga kehilangan nyawa,” jelasnya.
Karena itu, Wenika mengingatkan pengguna jalan untuk tidak membiarkan emosi mengambil alih kendali ketika menghadapi situasi yang memancing kemarahan. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah menarik napas dalam-dalam untuk memberikan waktu kepada otak agar kembali berpikir sebelum mengambil tindakan. Mengalah juga bukan berarti kalah, melainkan dapat menjadi pilihan untuk menjaga keselamatan.
“Tarik napas dalam-dalam ketika mulai emosi. Mengalah adalah tindakan yang menyelamatkan dan sering kali lebih baik daripada membalas. Anggap saja semua orang sedang terburu-buru, sehingga kita tidak mudah tersinggung. Prioritaskan keselamatan daripada emosi. Lebih baik terlambat daripada celaka,” pungkas Wenika.
Dengan demikian, kemampuan mengendalikan emosi menjadi salah satu kunci untuk mencegah road rage. Setiap pengguna jalan perlu menyadari bahwa keselamatan diri sendiri dan orang lain jauh lebih penting daripada memenangkan sebuah perselisihan di jalan. Mengendalikan diri, memberi ruang kepada pengendara lain, dan memilih untuk tidak membalas provokasi dapat menjadi langkah sederhana untuk menciptakan lalu lintas yang lebih aman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....