Psikolog: Orang Tua Masih Belum Bisa Memahami Anaknya

  • 21 Agt 2026 00:01 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Sebagian orang tua saat ini masih ada yang tidak bisa memahami apa yang terjadi pada anak mereka. Hal ini disampaikan Ketua Lembaga Kehumasan, Pemasaran dan Alumni, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya sekaligus psikolog Paulus Sutanto.

"Saya sering mendengarkan orang tua sering menyampaikan kenapa anak saya lebih banyak diam, menjadi tertutup kepada saya," ujarnya.

Dia mengatakan seandainya orang tua membawa anaknya lebih awal ke psikolog, proses pemulihannya bisa jauh lebih ringan, cepat. "Masa remaja secara alami memang dipenuhi dengan perubahan dinamika 'mood', mencari identitas dan jati diri," ucap Paulus. Dia menambahkan remaja zaman sekarang merasa perlu memiliki privasi dalam dirinya.

Menurutnya ada satu hal yang menarik dari remaja yang butuh waktu lama untuk dia pahami. "Remaja kadangkala cenderung sulit mengekspresikan apa yang dirasakan di dalam hati," katanya pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Khususnya meminta pertolongan jika mereka membutuhkan bantuan, mereka menyampaikannya bukan dalam bentuk verbal namun cenderung dalam bentuk nonverbal. "Seperti jam tidur jadi berantakan, nilai dan prestasi akademik mulai menurun tanpa alasan yang jelas," tutur Paulus.

Selain itu berhenti bercerita atau justru sebaliknya, menjadi terlalu rapi, terlalu penurut dan terlalu terlihat baik-baik saja. "Dari luar terlihat paling baik-baik saja namun bisa jadi justru yang memendam banyak luka," ujarnya.

Paulus mengajak orang tua lebih peka apabila ada gejala yang kurang wajar muncul dalam diri anak. "Orang tua dapat menjadi ruang aman dan nyaman bagi anak untuk bercerita," katanya.

Dimulai dengan langkah sederhana, misalnya meluangkan waktu sekitar 15 menit setiap hari untuk bicara yang berkualitas dengan anak. "Menanyakan apakah mereka baik-baik saja hari ini, apa aktivitas mereka hari ini," ucap pria berkulit putih ini.

Selain itu apakah ada hal yang mereka membutuhkan bantuan papa mama, dan lainnya. "Sebuah pembicaraan yang singkat namun memberikan makna bagi kondisi psikologis anak," tutur Paulus.

Hal lain yang juga bisa dilakukan adalah belajar untuk mendengar. "Kadang orang tua cenderung cepat menghakimi. Anak baru cerita beberapa kata, nasihatnya sudah keluar berpuluh-puluh kata," ujarnya.

Ternyata ada masanya, anak hanya perlu didengarkan, divalidasi perasaannya dan diberikan dukungan untuk menguatkan hatinya. "Kepekaan dan kehadiran ini bukan hanya menjadi tugas orang tua di rumah," kata Paulus.

Menurutnya UKWMS turut memahami dan menyadari bahwa masalah kesehatan mental harus diperhatikan dan difasilitasi. "Komitmen terhadap kesadaran kesehatan mental ini dibuktikan dengan adanya Unit Layanan Konseling," ucapnya.

Paulus mengungkapkan 'civitas akademika' bisa mengaksesnya secara gratis, sehingga diharapkan dengan layanan ini, mahasiswa belajar dengan rasa aman. "Dan nyaman secara psikologis sehingga mereka dapat fokus untuk meraih prestasi akademik," tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....