Benarkah Suka Mengelus Kucing Liar Memiliki Resiko Kesehatan?
- 04 Agt 2026 09:52 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Bagi para pencinta hewan, terutama kucing, melihat kucing liar yang lucu dan menggemaskan seringkali membuat kita tergoda untuk mengelusnya. Namun, di balik tingkahnya yang menggemaskan, aktivitas ini menyimpan sejumlah risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap remeh. Kucing liar, berbeda dengan kucing peliharaan yang terawat, lebih berisiko membawa berbagai penyakit yang dapat menular ke manusia.
Risiko utama dari kontak dengan kucing liar adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh cakaran atau gigitan. Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyebutkan bahwa sekitar 20 hingga 80 persen kasus gigitan kucing dapat menyebabkan infeksi. Bakteri Pasteurella yang hidup di mulut 70 hingga 90 persen kucing adalah penyebab paling umum, dengan gejala infeksi seperti nyeri dan bengkak yang bisa muncul dalam hitungan jam.
Salah satu penyakit yang paling dikenal adalah Cat Scratch Disease (CSD) atau demam cakaran kucing. Menurut CDC, penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bartonella henselae dan dapat menyebar melalui cakaran, gigitan, atau bahkan jilatan kucing pada luka terbuka. Kucing liar, terutama anak kucing, lebih mungkin terinfeksi bakteri ini dibandingkan kucing peliharaan. Gejala CSD meliputi demam ringan, pembengkakan kelenjar getah bening, dan luka lepuh di area cakaran yang muncul 1-3 minggu setelah kontak.
Risiko kesehatan tidak hanya berhenti pada infeksi bakteri. Melansir laman resmi Ayo Sehat, rabies atau penyakit anjing gila dapat ditularkan melalui gigitan hewan yang terinfeksi, termasuk kucing. Meskipun di Indonesia anjing adalah penular utama (98%), kucing dan kera juga berperan dalam penyebaran rabies (2%). Oleh karena itu, kontak dengan kucing liar yang tidak diketahui status vaksinasinya membawa risiko penularan rabies yang fatal jika tidak segera ditangani.
Penelitian dari Jordania yang dipublikasikan di ScienceDirect juga mengungkap risiko parasit pada kucing liar. Studi ini menemukan bahwa 32,88 persen kucing liar di Jordan terinfeksi parasit Toxoplasma gondii yang dapat menyebabkan toksoplasmosis. Pada manusia, terutama ibu hamil, toksoplasmosis dapat berdampak serius pada janin. Penelitian lain dari Brazil bahkan menemukan tingkat infeksi T. gondii pada kucing liar mencapai 27,8 persen, lebih tinggi dari kucing peliharaan.
Tidak hanya bakteri dan parasit, kucing liar juga dapat menjadi sumber jamur penyebab penyakit seperti Sporotrichosis. Sebuah studi dari Thailand yang dipublikasikan di jurnal CDC Emerging Infectious Diseases menemukan bahwa 71,9 persen pasien sporotrichosis memiliki riwayat kontak langsung dengan kucing, dan 95,7 persen di antaranya mengalami cakaran atau gigitan . Penyakit ini dapat menyebabkan infeksi kulit yang serius dan membutuhkan pengobatan antijamur jangka panjang.
Untuk tetap aman, CDC dan para ahli kesehatan menyarankan untuk menghindari kontak fisik langsung dengan kucing liar, terutama anak kucing. Jika tergores atau tergigit, segera cuci luka dengan sabun dan air mengalir, lalu konsultasikan ke tenaga medis untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Menjaga kebersihan tangan setelah berinteraksi dengan hewan dan memastikan hewan peliharaan di rumah tetap dalam kondisi sehat juga merupakan langkah pencegahan utama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....