Bukan Burnout, Kenali Boreout yang Diam-Diam Menguras Energi

  • 02 Agt 2026 18:22 WIB
  •  Surabaya

iRRI.CO.ID, Surabaya - Kesibukan dan beban kerja yang tinggi sering dikaitkan dengan burnout. Namun, tidak semua kelelahan di tempat kerja muncul karena terlalu banyak pekerjaan. Dalam dunia psikologi kerja dikenal pula istilah boreout, yaitu kondisi ketika seseorang kehilangan motivasi karena pekerjaan yang monoton, minim tantangan, atau tidak lagi memberikan ruang untuk berkembang.

Istilah boreout diperkenalkan oleh konsultan bisnis asal Swiss, Philippe Rothlin dan Peter R. Werder melalui buku Diagnosis Boreout pada 2007. Sejak itu, istilah tersebut banyak digunakan dalam kajian psikologi kerja untuk menggambarkan kondisi pekerja yang mengalami kebosanan berkepanjangan akibat kurangnya tantangan dalam pekerjaan. Meski demikian, boreout bukan merupakan diagnosis medis.

Sejumlah penelitian psikologi menunjukkan, boreout umumnya ditandai dengan rasa bosan yang terus-menerus, minimnya tantangan, serta hilangnya minat terhadap pekerjaan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi motivasi, konsentrasi, kepuasan kerja, hingga produktivitas apabila berlangsung dalam jangka panjang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan, burnout merupakan fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan akibat stres kronis yang tidak berhasil dikelola. Penjelasan ini menjadi pembeda penting karena burnout dipicu oleh tekanan kerja yang berlebihan, sedangkan boreout muncul akibat kurangnya tantangan dan keterlibatan dalam pekerjaan.

"Burnout merupakan sindrom yang dipahami sebagai akibat dari stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola," demikian keterangan WHO dalam klasifikasi International Classification of Diseases (ICD-11).

Meski penyebabnya berbeda, burnout maupun boreout sama-sama dapat memengaruhi kesejahteraan pekerja. Seseorang yang mengalami boreout cenderung merasa pekerjaannya tidak bermakna, kemampuan yang dimiliki tidak dimanfaatkan secara optimal, hingga kehilangan semangat untuk menyelesaikan tugas. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan psikologis maupun kualitas kinerja.

WHO juga menegaskan bahwa kesehatan mental di tempat kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari cara pekerjaan dirancang, diorganisasi, hingga dikelola. Lingkungan kerja yang sehat menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesejahteraan pekerja.

"Lingkungan kerja yang aman dan sehat dapat melindungi kesehatan mental," demikian keterangan WHO dalam pedoman Mental Health at Work.

Karena itu, menjaga kesehatan mental di tempat kerja tidak hanya berarti mengurangi tekanan akibat pekerjaan yang berlebihan. Pekerjaan yang memberikan tantangan sesuai kemampuan, kesempatan untuk berkembang, serta lingkungan kerja yang suportif juga menjadi bagian penting dalam menciptakan kesejahteraan pekerja. Mengenali boreout sejak dini dapat menjadi langkah awal agar rasa bosan tidak berkembang menjadi masalah yang memengaruhi produktivitas maupun kualitas hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....