Edukasi Dini Kunci Cegah HIV pada Remaja

  • 01 Agt 2026 21:57 WIB
  •  Surabaya

RRI CO.ID, Surabaya - Edukasi kesehatan reproduksi sejak dini dinilai menjadi langkah penting dalam mencegah penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada kalangan remaja. Upaya tersebut memerlukan keterlibatan keluarga, sekolah, pemerintah, dan tenaga kesehatan agar generasi muda memiliki pemahaman yang benar mengenai kesehatan reproduksi serta terhindar dari perilaku berisiko.

Pengamat HIV/AIDS Jawa Timur, Rachmat Hargono mengatakan pembahasan mengenai kesehatan reproduksi masih kerap dianggap tabu di tengah masyarakat. Padahal, keterbukaan informasi yang diberikan sesuai dengan usia anak justru menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah penularan HIV.

"Edukasi kesehatan reproduksi perlu diberikan sejak dini dengan pendekatan yang sesuai usia. Jangan sampai karena dianggap tabu, anak justru mencari informasi dari sumber yang belum tentu benar," ujarnya saat diwawancarai RRI Surabaya.

Menurut Rachmat, remaja saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan media sosial dan pergaulan. Kondisi tersebut membuat mereka lebih rentan terpapar informasi yang keliru maupun perilaku berisiko apabila tidak dibekali pemahaman yang benar mengenai kesehatan reproduksi.

Karena itu, ia menilai edukasi tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat perlu membangun komunikasi yang terbuka agar remaja memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Selain edukasi, Rachmat menekankan pentingnya skrining HIV sebagai langkah deteksi dini. Menurutnya, pemeriksaan HIV bukan untuk memberikan stigma atau menghakimi seseorang, melainkan agar infeksi dapat diketahui lebih awal sehingga penanganan dan pengobatan dapat segera dilakukan.

"Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula seseorang dapat memperoleh layanan kesehatan dan pengobatan. Karena itu, skrining harus dipandang sebagai upaya menjaga kesehatan, bukan sesuatu yang perlu ditakuti," katanya.

Rachmat juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma kepada Orang dengan HIV (ODHIV). Ia menegaskan HIV tidak menular melalui kontak sosial sehari-hari, seperti berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan atau minuman, menggunakan toilet yang sama, maupun karena terkena keringat.

Penularan HIV terjadi melalui jalur tertentu, antara lain hubungan seksual yang berisiko, penggunaan jarum suntik yang tidak steril secara bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta penularan dari ibu kepada bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui apabila tidak memperoleh penanganan yang tepat.

Kementerian Kesehatan menyebutkan penanggulangan HIV di Indonesia terus diperkuat melalui edukasi, deteksi dini, perluasan akses layanan tes HIV, pengobatan antiretroviral (ARV), serta penghapusan stigma terhadap ODHIV. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi nasional untuk menekan penularan HIV sekaligus meningkatkan kualitas hidup orang yang hidup dengan HIV.

Rachmat berharap edukasi kesehatan reproduksi tidak lagi dipandang sebagai hal yang tabu. Menurutnya, pemahaman yang benar sejak dini, didukung peran aktif keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat, menjadi bekal penting untuk melindungi generasi muda dari HIV sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih peduli dan bebas stigma terhadap ODHIV.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....