RSPAL dr. Ramelan Perkuat Kompetensi Melalui Simposium Penyakit Metabolik
- 01 Agt 2026 13:27 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut (RSPAL) dr. Ramelan Surabaya terus mendorong pembaruan pengetahuan dan keilmuan medis guna menghadapi tren peningkatan penyakit metabolik di masyarakat. Hal ini ditandai dengan diadakannya Metabolic Ramelan Symposium (MRS) 2026 di Aula Gedung Pulau Miangas RSPAL dr. Ramelan, Surabaya, Sabtu 1 Agustus 2026.
Kepala RSPAL Dr. Ramelan Surabaya, Laksamana Pertama TNI Mukti Fahimi mengatakan, kegiatan ilmiah seperti ini merupakan agenda tahunan dalam rangka menyambut Hari Jadi RSPAL dr. Ramelan. Selain itu, RS tersebut juga bersiap menjadi rumah sakit pusat pendidikan.
"Ini adalah salah satu bentuk pengembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang metabolik dan endokrin, untuk menyiapkan para DPJP maupun para narasumber atau para dokter-dokter spesialis yang ada di rumah sakit ini untuk menjadi staf pengajar ketika nanti tahun 2027 kita menyelenggarakan pendidikan spesialis penyakit dalam dengan Hospital Based di bawah Kemenkes," kata Mukti.
Penyakit metabolik sendiri, dijelaskan Mukti menjadi penyakit yang dominan ditemukan dunia. Di Indonesia, dari data International Diabetes Federation (IDF) terakhir, Indonesia menempati peringkat ke-5 penderita diabetes melitus (DM) tertinggi di dunia.
Di RSPAL dr. Ramelan Surabaya, 70 persen pasien dari rata-rata 1.500 pasien perhari mengalami penyakit metabolik, meliputi diabetes melitus, hipertensi, dan gagal ginjal.
"Oleh karena itu, Dokter Libri bersama tim ini memberikan pengetahuan melalui simposium ini untuk meng-upgrad secara keilmuan para dokter kita. Sehingga, nanti ketika ada paradigma maupun terapi yang baru, para dokter spesialis penyakit dalam yang ada di Ramelan tidak ketinggalan dalam segi keilmuan," ujarnya.
Sementara itu, Dr. Libriansyah selaku Dokter Spesialis Penyakit Dalam mengatakan, simposium ini dilakukan untuk menyamakan persepsi secara global terkait penanganan medis yang tepat. Menurutnya, saat ini pengobatan masing-masing pasien sangat berberda sehingga perlu penanganan presisi.
"Beberapa sekarang ini penyakit metabolik itu sudah dinyatakan penyakit yang remisi. Artinya bahwa dia bisa dikontrol dan bisa tidak tanpa obat dengan pengobatan-pengobatan dan ilmu pengetahuan yang sekarang ini kita miliki. Makanya itu yang menjadi target utama kita," kata Libri.
Melalui kegiatan ini pula, diharapkan dapat membantu meningkatkan keterampilan para dokter dalam pelayanan kasus-kasus penyakit metabolik. Masyarakat juga diharap dapat meningkatkan kesadaran terkait gangguan penyakit metabolik dengan menjaga pola hidup dengan baik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....