Tetap Sehat di Era Serba Online dengan Gaya Hidup Digital Cerdas

  • 28 Jul 2026 10:42 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID - Surabaya - Di tengah Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Kini, berbagai aktivitas dapat dilakukan hanya melalui sentuhan jari di layar ponsel atau komputer. Mulai dari bekerja, mengikuti pembelajaran, mencari informasi, berbelanja kebutuhan sehari-hari, menikmati hiburan, hingga menjalin komunikasi dengan keluarga dan rekan kerja, semuanya semakin praktis berkat kemajuan teknologi. Kemudahan tersebut membuat masyarakat semakin terhubung dengan dunia digital selama hampir dua puluh empat jam setiap hari.

Di balik berbagai manfaat yang ditawarkan, penggunaan perangkat digital secara terus-menerus juga menghadirkan tantangan baru bagi kesehatan. Tidak sedikit orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya menatap layar tanpa menyadari dampak yang muncul secara perlahan. Kebiasaan memeriksa notifikasi setiap beberapa menit, menggulir media sosial tanpa henti, hingga bekerja melewati jam istirahat dapat menyebabkan kelelahan fisik maupun mental.

Fenomena ini semakin menjadi perhatian para ahli kesehatan. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui artikel berjudul "Seni Mengambil Jeda: Gaya Hidup SloMo dan Digital Detox Adalah Obat Terbaik Tahun 2026" menjelaskan bahwa masyarakat saat ini menghadapi risiko digital burnout, yaitu kondisi kelelahan akibat paparan teknologi dan informasi yang berlangsung secara terus-menerus. Digital burnout tidak hanya dialami oleh pekerja kantoran, tetapi juga pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang setiap hari bergantung pada perangkat digital.

Kondisi tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seseorang mungkin merasa sulit berkonsentrasi saat bekerja, mudah lupa, cepat lelah, atau mengalami penurunan produktivitas. Di sisi lain, terlalu lama menatap layar juga dapat menyebabkan mata terasa kering, nyeri pada leher dan bahu, sakit kepala, serta gangguan tidur akibat paparan cahaya biru (blue light) dari perangkat elektronik. Bahkan, kebiasaan terus menerima informasi tanpa jeda dapat memicu stres, kecemasan, dan perasaan selalu harus mengikuti perkembangan yang terjadi di media sosial.

Salah satu penyebab digital burnout adalah budaya always connected, yaitu kondisi ketika seseorang merasa harus selalu aktif dan merespons pesan atau notifikasi setiap saat. Tidak sedikit orang yang masih membuka email pekerjaan di malam hari, mengecek media sosial sesaat sebelum tidur, bahkan langsung melihat ponsel begitu bangun di pagi hari. Kebiasaan tersebut membuat otak hampir tidak pernah mendapatkan waktu untuk benar-benar beristirahat.

Selain itu, banjir informasi atau information overload juga menjadi tantangan tersendiri. Setiap hari masyarakat menerima ratusan bahkan ribuan informasi melalui berbagai platform digital. Informasi tersebut datang dalam bentuk berita, video pendek, iklan, pesan instan, hingga berbagai notifikasi aplikasi. Akibatnya, kemampuan otak untuk menyaring informasi menjadi semakin terbebani sehingga memengaruhi fokus dan konsentrasi.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan RI mendorong masyarakat mulai menerapkan konsep digital detox. Digital detox merupakan upaya membatasi penggunaan perangkat digital dalam jangka waktu tertentu agar tubuh dan pikiran memperoleh kesempatan untuk beristirahat. Langkah ini bukan berarti meninggalkan teknologi sepenuhnya, melainkan menciptakan keseimbangan antara aktivitas digital dan kehidupan nyata.

Digital detox dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Misalnya, menetapkan waktu tertentu setiap hari untuk tidak menggunakan ponsel, seperti saat makan bersama keluarga, ketika berolahraga, atau satu jam sebelum tidur. Kebiasaan kecil tersebut mampu membantu mengurangi ketergantungan terhadap gawai sekaligus meningkatkan kualitas interaksi dengan orang-orang di sekitar.

Manfaat digital detox telah dirasakan oleh banyak orang. Dengan mengurangi waktu menatap layar, kualitas tidur cenderung membaik karena tubuh dapat memproduksi hormon melatonin secara lebih optimal. Pikiran menjadi lebih tenang, tingkat stres berkurang, dan kemampuan berkonsentrasi meningkat. Selain itu, seseorang juga memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan aktivitas fisik, membaca buku, menjalankan hobi, atau sekadar menikmati suasana tanpa gangguan notifikasi.

Artikel Kementerian Kesehatan RI juga memberikan sejumlah langkah praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah menerapkan aturan 20-20-20. Aturan ini menyarankan agar setiap 20 menit menatap layar, seseorang mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau sekitar 6 meter selama 20 detik. Cara sederhana ini dapat membantu mengurangi ketegangan pada mata akibat penggunaan perangkat digital dalam waktu lama.

Selain itu, masyarakat juga dianjurkan untuk menonaktifkan notifikasi yang tidak penting agar perhatian tidak terus-menerus terpecah. Mengurangi jumlah aplikasi yang mengirim pemberitahuan akan membantu seseorang lebih fokus menyelesaikan pekerjaan tanpa gangguan yang berulang.

Langkah berikutnya adalah menciptakan zona bebas gawai di rumah. Misalnya, tidak membawa ponsel ke ruang makan atau kamar tidur. Dengan begitu, waktu bersama keluarga menjadi lebih berkualitas karena setiap anggota keluarga dapat berinteraksi secara langsung tanpa terdistraksi oleh layar.

Kementerian Kesehatan juga mendorong penerapan kebiasaan monotasking, yaitu mengerjakan satu aktivitas dalam satu waktu. Berbeda dengan multitasking yang sering dianggap lebih produktif, monotasking justru membantu otak bekerja lebih fokus sehingga hasil pekerjaan menjadi lebih baik dan tingkat stres dapat berkurang.

Mengganti kebiasaan menggunakan ponsel sebelum tidur dengan aktivitas yang lebih menenangkan juga menjadi salah satu rekomendasi penting. Membaca buku, menulis jurnal, melakukan peregangan ringan, atau mendengarkan musik yang menenangkan dapat membantu tubuh memasuki waktu istirahat dengan lebih nyaman.

Di sisi lain, aktivitas fisik juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan digital. Berjalan kaki, berolahraga ringan, berkebun, atau melakukan kegiatan di luar ruangan dapat menjadi cara efektif untuk mengurangi waktu penggunaan layar sekaligus meningkatkan kesehatan tubuh. Aktivitas tersebut juga membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.

Penerapan gaya hidup digital sehat tidak hanya memberikan manfaat bagi kesehatan individu, tetapi juga memperkuat hubungan sosial. Ketika seseorang tidak terus-menerus terpaku pada layar, kesempatan untuk berbicara langsung, berbagi cerita, dan membangun kedekatan dengan keluarga maupun teman menjadi lebih besar. Interaksi tatap muka tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan emosional dan kualitas hidup.

Pada akhirnya, teknologi merupakan alat yang diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia. Namun, manfaat tersebut hanya dapat dirasakan secara optimal apabila digunakan secara bijaksana. Gaya hidup digital sehat bukan berarti menolak perkembangan teknologi, melainkan mampu mengendalikan penggunaannya agar tetap seimbang dengan kebutuhan fisik, mental, dan sosial.

Dengan membiasakan diri mengambil jeda dari layar, mengatur waktu penggunaan perangkat digital, serta memberikan ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat, masyarakat dapat menikmati berbagai kemudahan teknologi tanpa harus mengorbankan kesehatan. Di era yang semakin terkoneksi ini, keseimbangan menjadi kunci agar teknologi benar-benar menjadi sahabat, bukan sumber kelelahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....