Penantian 22 Tahun Berbuah Manis, Pasutri Sumenep Dikaruniai Bayi Kembar
- 25 Jul 2026 15:57 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Penantian selama 22 tahun akhirnya berbuah manis bagi pasangan suami istri asal Kabupaten Sumenep, Mina dan Yusuf Santoso. Pasangan pejuang garis dua itu kini dikaruniai bayi kembar laki-laki dan perempuan, Ryan dan Raina yang lahir sehat pada 2 Juli 2026 melalui program bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF) di Morula IVF Surabaya.
Kebahagiaan itu terasa semakin istimewa karena pasangan yang telah berusia di atas 40 tahun tersebut berhasil memperoleh kehamilan pada percobaan pertama program IVF yang dijalani.
Perjuangan mereka tidak mudah. Selama lebih dari dua dekade, Yusuf dan Mina terus berikhtiar untuk mendapatkan momongan. Hingga akhirnya, keduanya bertemu dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi Morula IVF Surabaya, dr. Benediktus Arifin, MPH., Sp.OG(K), yang kemudian mendampingi program kehamilan mereka.
Yusuf menuturkan, proses program bayi tabung dijalani selama sekitar delapan bulan. Berkat kesabaran dan pendampingan tim medis, penantian panjang mereka akhirnya berbuah kebahagiaan.
"Kami terus berikhtiar agar bisa memiliki anak. Alhamdulillah dipertemukan dengan dr. Benny dan menjalani program bayi tabung sekitar delapan bulan. Kami sangat bersyukur karena Allah mengaruniai kami dua anak kembar, laki-laki dan perempuan," ujar Yusuf, saat ditemui di RS National Hospital, Sabtu, 25 Juli 2026.

Sebelum mengikuti program bayi tabung, Mina menjalani pemeriksaan Anti-Müllerian Hormone (AMH) untuk mengetahui cadangan sel telur. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar AMH hanya 0,1, yang menandakan cadangan sel telur sangat rendah sehingga peluang kehamilan tergolong kecil.
dr. Benediktus mengatakan kondisi tersebut secara medis menjadi tantangan besar dalam program kehamilan. Namun, dengan teknologi reproduksi berbantu serta penanganan yang tepat, pasangan itu berhasil memperoleh kehamilan hingga melahirkan bayi kembar dalam kondisi sehat.
"Selama telur itu masih ada, selama sperma itu masih ada, harapan itu belum hilang. Ini adalah teguran dari Yang Maha Kuasa buat saya untuk tidak mudah menyerah. Kalau kita tetap berusaha, kita tetap punya harapan," ujar dr. Benediktus.
Ia mengatakan kisah Mina dan Yusuf menjadi bukti bahwa peluang untuk memiliki keturunan tetap terbuka meski menghadapi tantangan kesuburan. Menurutnya, keberhasilan program kehamilan tidak hanya ditentukan oleh kondisi medis, tetapi juga ketekunan, kesabaran, dan keyakinan pasangan dalam menjalani setiap tahapan pengobatan.
dr. Benediktus berharap kisah pasangan asal Sumenep tersebut dapat menjadi penyemangat bagi pasangan pejuang garis dua agar tidak menyerah dalam berikhtiar dan memanfaatkan penanganan medis yang tepat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....