Dosen ITS Paparkan Perbedaan Hantavirus dan Leptospirosis

  • 22 Mei 2026 15:53 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Kasus kematian pasien akibat infeksi hantavirus dan leptospirosis di Bandung menyoroti pentingnya pemahaman masyarakat terhadap penyakit zoonosis. Dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) ITS, dr Zulistian Nurul Hidayati, Sp.PD, menjelaskan meskipun sama-sama berkaitan dengan tikus, hantavirus, leptospirosis, dan pes memiliki penyebab serta mekanisme penularan yang berbeda.

Menurut Zulistian, ketiga penyakit tersebut termasuk zoonosis, yakni penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Namun, agen penyebabnya tidak sama karena hantavirus disebabkan virus, sedangkan leptospirosis dan pes berasal dari bakteri yang berbeda.

“Semuanya ada kaitannya dengan tikus, tetapi epidemiologi maupun penyebabnya berbeda-beda. Satunya virus, satunya bakteri leptospira, sedangkan penyakit pes disebabkan bakteri Yersinia pestis,” ujar dr. Zulistian, Jumat, 22 Mei 2025

Ia menjelaskan, perbedaan lain terletak pada mekanisme penularan. Hantavirus umumnya menular melalui inhalasi atau partikel yang terhirup dari kotoran hewan pengerat, meski kontak langsung juga bisa terjadi.

“Kalau hantavirus itu lebih dari inhalasi atau terhirup, meskipun bisa kontak langsung,” katanya. Sementara itu, penyakit pes memiliki jalur penularan yang berbeda.

Infeksi pes biasanya terjadi melalui gigitan kutu tikus yang telah terinfeksi bakteri. “Kalau pes itu dari kutu tikus yang terinfeksi lalu menggigit manusia,” katanya.

Zulistian juga menuturkan bahwa hantavirus dan leptospirosis sering sulit dibedakan dari gejala klinis karena memiliki kemiripan. Keduanya dapat menimbulkan gejala seperti demam, nyeri tubuh, dan gangguan organ pada kasus berat.

“Kalau secara gejala klinis, hantavirus dan leptospirosis hampir sama. Penularannya juga sama dari tikus,” ucapnya.

Ia menegaskan, pembeda utama terletak pada pemeriksaan laboratorium. Diagnosis hantavirus dipastikan melalui tes serologi yang mendeteksi antigen virus hanta, sedangkan leptospirosis dideteksi dari bakteri leptospira.

“Hantavirus terbukti apabila dilakukan pemeriksaan serologi dan ditemukan antigen virus hanta. Sedangkan leptospira dari bakteri leptospira,” ujarnya.

Lebih lanjut, Zulistian menyebut penularan hantavirus dapat terjadi melalui kontak dengan hewan pengerat maupun paparan terhadap urin, feses, atau kotoran tikus. Jalur ini dinilai mirip dengan leptospirosis yang juga berkaitan dengan kontaminasi dari tikus.

Sebelumnya, seorang pasien laki-laki berusia 49 tahun dilaporkan meninggal dunia setelah dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin akibat infeksi hantavirus dan leptospirosis. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memastikan kasus tersebut terjadi pada 2025 dan tidak berkaitan dengan hantavirus yang sempat ramai dibahas di kapal pesiar MV Hondius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....