Akses dan Literasi Jadi Tantangan Layanan Kesehatan

  • 06 Mei 2026 11:22 WIB
  •  Surabaya

‎RRI.CO.ID, Sidoarjo - Tantangan layanan kesehatan di lapangan tidak hanya berkutat pada ketersediaan fasilitas, tetapi juga menyangkut persoalan akses, literasi, hingga kepercayaan masyarakat. Kondisi ini dinilai menjadi faktor utama rendahnya partisipasi warga dalam pemeriksaan kesehatan secara dini.

Ketua BPJS Watch Jawa Timur, Arief Supriyono, mengatakan akses layanan kesehatan masih belum merata, terutama di wilayah pinggiran dan pedesaan.

‎“Di kota mungkin relatif mudah, tetapi di desa jarak ke fasilitas kesehatan masih menjadi hambatan. Ditambah lagi keterbatasan tenaga kesehatan dan waktu layanan yang belum fleksibel bagi pekerja,” ujarnya, Rabu 6 Mei 2026.

Selain itu, literasi kesehatan masyarakat dinilai masih rendah. Banyak warga baru mendatangi fasilitas kesehatan saat sudah sakit, bukan untuk pencegahan.

‎“Cek kesehatan sering dianggap tidak penting selama tubuh masih terasa baik-baik saja. Ini yang harus diubah,” kata Arief.

Ia juga menyoroti tantangan digitalisasi layanan kesehatan, seperti pemanfaatan aplikasi SatuSehat yang belum optimal. Menurut dia, tidak semua masyarakat, khususnya lansia dan kelompok rentan, familiar dengan teknologi. Di sisi lain, persoalan kepercayaan juga masih menjadi kendala.

‎“Sebagian masyarakat takut diperiksa karena khawatir ditemukan penyakit dan memicu biaya lanjutan,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Arief menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas dengan melibatkan RT/RW, kader posyandu, hingga tokoh agama. Selain itu, layanan jemput bola melalui klinik keliling, integrasi skrining dengan kegiatan masyarakat, serta edukasi yang transparan dinilai efektif meningkatkan partisipasi.

‎“Kuncinya adalah mengubah pola pikir dari berobat saat sakit menjadi merawat sebelum sakit,” katanya.

Menurut dia, rendahnya kesadaran deteksi dini juga dipengaruhi budaya kuratif yang lebih dominan dibandingkan preventif. Banyak penyakit tidak bergejala pada tahap awal, sehingga kerap diabaikan.

‎“Perlu pendekatan perilaku, seperti pengingat rutin, insentif, serta storytelling dari kasus nyata agar masyarakat lebih sadar pentingnya skrining,” ujar Arief.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....