Bahaya Mengintai Buat Kamu yang Jarang Sikat Gigi

  • 06 Mei 2026 10:44 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Kesehatan gigi dan mulut sering dianggap remeh, padahal rongga mulut merupakan pintu masuk utama bagi berbagai penyakit ke dalam tubuh. Kebiasaan jarang menyikat gigi tidak hanya menyebabkan gigi berlubang dan bau mulut, tetapi juga berdampak serius pada organ-organ vital lainnya.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menunjukkan bahwa sebanyak 57 persen penduduk Indonesia usia di atas tiga tahun mengalami masalah gigi, namun hanya 11,2 persen yang mencari pengobatan.

Berdasarkan laman resmi Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan (keslan.kemkes.go.id), kesehatan gigi dan mulut yang buruk dapat berdampak pada organ vital termasuk jantung. Pada ibu hamil, infeksi gigi bahkan berisiko membahayakan kesehatan janin yang dikandungnya.

Fakta ini menunjukkan bahwa kebiasaan sepele seperti malas menyikat gigi ternyata menyimpan bahaya laten yang mengintai keselamatan jiwa.

Dampak paling umum dari jarang menyikat gigi adalah penumpukan plak dan karang gigi yang sulit dibersihkan. Plak yang mengandung bakteri akan menciptakan asam yang menyerang enamel gigi, menyebabkan gigi berlubang hingga infeksi mencapai saraf gigi dan membuat gigi mati.

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi radang gusi (gingivitis) hingga penyakit gusi parah (periodontitis) yang dapat menyebabkan gigi tanggal atau copot. Lebih mengkhawatirkan lagi, penumpukan bakteri di mulut ternyata dapat menyebar ke organ vital lain melalui aliran darah.

Infeksi bakteri dari gusi yang bermasalah dapat menyebabkan penyakit berbahaya seperti endokarditis atau infeksi pada lapisan dalam jantung. Bahkan, kesehatan janin dalam kandungan pun sangat dipengaruhi oleh kebersihan gigi ibu hamil, menunjukkan betapa luasnya dampak dari kebiasaan sederhana ini.

Selain masalah pada jantung, kesehatan mulut yang buruk juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif. Beberapa penelitian menemukan bahwa bakteri penyebab penyakit gusi seperti Porphyromonas gingivalis dapat masuk ke otak melalui aliran darah atau saraf.

Kehadiran bakteri ini di otak diduga memicu akumulasi protein abnormal yang menjadi salah satu ciri penyakit Alzheimer, meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hubungan kausalnya.

Masyarakat yang masih memiliki kebiasaan menyikat gigi hanya sekali sehari perlu segera mengubah pola tersebut. American Dental Association dan para ahli kesehatan gigi merekomendasikan menyikat gigi dua kali sehari, yaitu pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur.

Gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride dan sikatlah selama minimal dua menit untuk memastikan plak serta sisa makanan tersingkir secara sempurna. Selain memperbanyak frekuensi menyikat gigi, masyarakat juga perlu memperhatikan teknik yang benar agar pembersihan optimal.

Pastikan untuk menyikat seluruh permukaan gigi, mulai dari sisi bawah kiri belakang hingga ke bagian kanan atas, serta jangan lupa membersihkan bagian belakang gigi dengan gerakan memutar. Sikat gigi sebaiknya juga rutin diganti setiap tiga bulan sekali atau lebih cepat jika bulu sikat sudah terlihat melebar agar tidak mengikis permukaan gigi dan menyebabkan gigi sensitif.

Kunjungan rutin ke dokter gigi setiap enam bulan sekali juga tidak kalah pentingnya untuk mendeteksi masalah sejak dini. Pencegahan melalui pemeriksaan berkala jauh lebih murah dan lebih mudah dibandingkan pengobatan saat penyakit sudah parah.

Jagalah kesehatan gigi dan mulut karena melalui rongga mulutlah penyakit-penyakit serius bisa masuk ke dalam tubuh. Mulailah dari langkah kecil: sikat gigi dengan benar dan rutin, karena kesehatan tubuh secara keseluruhan berawal dari mulut yang bersih dan sehat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....