Mengenal Hantavirus, Penyakit yang Sedang Diwaspadai Dunia saat ini
- 06 Mei 2026 12:21 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Dunia saat ini tengah dihadapkan pada wabah baru yang menyita perhatian global setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan adanya klaster kasus hantavirus di sebuah kapal pesiar lintas negara. Hingga 4 Mei 2026, telah diidentifikasi tujuh kasus yang terdiri dari dua kasus terkonfirmasi laboratorium dan lima kasus suspek, termasuk tiga kematian serta satu pasien kritis akibat infeksi virus ini. Kapal yang membawa 88 penumpang dan 59 awak tersebut kini berlabuh di lepas pantai Tanjung Verde setelah menempuh perjalanan dari Argentina melintasi Atlantik Selatan.
Hantavirus adalah penyakit zoonosis langka namun mematikan yang disebabkan oleh virus dari genus Orthohantavirus. Infeksi pada manusia terutama didapat melalui kontak dengan urin, feses, atau air liur hewan pengerat (rodensia) yang terinfeksi, seperti tikus. Paparan biasanya terjadi saat membersihkan bangunan dengan infestasi tikus atau aktivitas rutin di daerah yang banyak dihuni tikus, seperti di kawasan pedesaan, hutan, hingga area pertanian.
Berdasarkan informasi dari laman resmi Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (infeksiemerging.kemkes.go.id), terdapat dua manifestasi klinis yang dapat terjadi ketika seseorang terinfeksi hantavirus. Pertama adalah Haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) atau hantavirus "Old World" yang mengakibatkan gangguan ginjal akut dan umumnya tersebar di Eropa dan Asia. Kedua adalah Hantavirus pulmonary syndrome (HPS) atau hantavirus "New World" yang mengakibatkan gangguan pada paru-paru dan lazim ditemukan di kawasan Amerika.
Gejala awal infeksi hantavirus sering kali mirip dengan flu biasa sehingga sulit dikenali. Penderita biasanya mengalami demam, nyeri otot terutama di paha, pinggul, punggung, dan bahu, disertai kelelahan ekstrem serta pusing. Sekitar separuh pasien juga melaporkan gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, dan nyeri perut. Dalam perkembangannya, gejala dapat memburuk dengan munculnya batuk, sesak napas, dan dada terasa sesak akibat cairan yang mengisi paru-paru.
Perbedaan wilayah geografis menentukan jenis hantavirus yang dominan beredar. Di Amerika, kasus hantavirus pulmonary syndrome (HPS) paling sering disebabkan oleh virus Sin Nombre, sementara di Amerika Selatan virus Andes menjadi penyebab utama. Di Eropa dan Asia, termasuk Indonesia, manifestasi yang ditemukan adalah haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS). Angka kematian untuk HFRS di tingkat global berkisar antara 5 hingga 15 persen, tergantung pada jenis strain virusnya.
Kabar baiknya, Indonesia telah memiliki sistem surveilans untuk mendeteksi penyakit virus hanta. Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit melaksanakan surveilans sentinel penyakit infeksi emerging di 19 rumah sakit yang mencakup penemuan kasus penyakit virus hanta. Hingga 19 Juni 2025, telah dilaporkan delapan kasus penyakit virus hanta tipe HFRS di Indonesia yang ditemukan melalui surveilans tersebut. Keempat provinsi yang melaporkan kasus adalah DI Yogyakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara, dan seluruh kasus dinyatakan telah sembuh.
| Baca juga: Rahasia Panjang Umur Warga Okinawa Jepang |
Meskipun umumnya penularan hantavirus terjadi dari hewan pengerat ke manusia, terdapat pengecualian pada jenis virus Andes yang endemik di Amerika Selatan. Virus Andes telah terbukti mampu menular antar manusia melalui kontak dekat dan berlangsung lama, meskipun kasusnya sangat jarang terjadi. Penularan sekunder di kalangan petugas kesehatan di fasilitas layanan kesehatan juga pernah terdokumentasi sebelumnya, namun tetap tergolong langka.
Hingga saat ini, belum ada pengobatan spesifik maupun vaksin yang tersedia untuk infeksi hantavirus. Penanganan medis bersifat suportif dan simtomatik berdasarkan gejala yang dialami pasien, termasuk pemberian cairan, dukungan pernapasan dengan oksigen atau ventilator, serta perawatan intensif di rumah sakit. WHO menilai risiko bagi populasi global dari peristiwa kapal pesiar ini masih rendah, namun akan terus memantau situasi epidemiologi secara berkala.
Masyarakat diimbau untuk melakukan pencegahan terutama melalui pengendalian populasi tikus di lingkungan sekitar. Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, jaga kebersihan rumah terutama ruang bawah tanah, loteng, dan gudang yang jarang dibersihkan. Hindari menyentuh tikus baik yang hidup maupun mati, kelola sampah dengan benar, serta gunakan alat pelindung diri bagi pekerja yang berisiko kontak dengan tikus seperti petani, buruh bangunan, dan tenaga laboratorium. Dengan kewaspadaan dan langkah pencegahan yang tepat, risiko penularan hantavirus dapat ditekan secara signifikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....