Apa itu HB Rendah? Kenapa Dilarang Donor Darah
- 15 Apr 2026 12:52 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Setiap kali mengikuti kegiatan donor darah, tidak sedikit calon pendonor yang harus gigit jari karena dinyatakan tidak memenuhi syarat oleh petugas medis. Salah satu penyebab paling umum penolakan donor darah adalah kadar hemoglobin (HB) yang terlalu rendah, atau dalam istilah awam sering disebut HB rendah.
Lantas, apa sebenarnya HB rendah itu dan mengapa kondisi ini membuat seseorang dilarang untuk mendonorkan darahnya?
Hemoglobin adalah protein kaya zat besi yang terdapat di dalam sel darah merah dan berfungsi sebagai "kendaraan" pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal, kondisi ini disebut anemia.
Kadar hemoglobin normal pada pria dewasa berkisar antara 13 hingga 17 gram per desiliter, sedangkan pada wanita dewasa berkisar antara 12 hingga 15 gram per desiliter.
Melansir laman resmi Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, salah satu syarat mutlak untuk mendonorkan darah adalah memiliki kadar hemoglobin antara 12,5 hingga 17 gram per desiliter. Angka batas minimal 12,5 g/dL ini sedikit lebih tinggi dari batas normal anemia pada umumnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan pendonor dalam kondisi sehat prima dan tidak mengalami kekurangan darah setelah menyumbangkan sekitar 350 hingga 500 mililiter darahnya.
Larangan donor darah bagi seseorang dengan HB rendah atau anemia bukan tanpa alasan. Donor darah akan mengurangi cadangan zat besi dalam tubuh, dan jika cadangan zat besi berkurang, maka kondisi anemia pada penderitanya justru akan semakin parah. Selain itu, darah dengan kadar hemoglobin rendah juga kurang berkualitas untuk ditransfusikan kepada pasien yang membutuhkan, karena daya angkut oksigennya tidak optimal.
Petugas medis berkewajiban melindungi kesehatan calon pendonor sekaligus memastikan kemanjuran darah yang akan disalurkan kepada penerima.
Kadar hemoglobin yang rendah dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang perlu diwaspadai masyarakat. Penyebab utamanya meliputi kekurangan zat besi dalam makanan, perdarahan hebat saat menstruasi pada wanita, pendarahan di saluran cerna, hingga gangguan produksi sel darah merah oleh sumsum tulang.
Remaja putri dan ibu hamil termasuk kelompok yang paling rentan mengalami anemia akibat peningkatan kebutuhan zat besi tubuh. Gejala HB rendah yang sering muncul antara lain tubuh terasa sangat lelah, kulit pucat, pusing, detak jantung berdebar lebih cepat, serta sesak napas saat beraktivitas ringan.
Masyarakat yang ingin menjadi pendonor darah disarankan untuk mempersiapkan diri dengan baik agar kadar hemoglobin tetap dalam batas normal. Konsumsi makanan kaya zat besi seperti bayam, daging merah, hati, telur, dan kacang-kacangan sangat dianjurkan beberapa hari sebelum donor.
Perbanyak juga asupan vitamin C dari jeruk, stroberi, atau tomat untuk membantu penyerapan zat besi dalam tubuh secara maksimal. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar HB masih di bawah 12,5 g/dL, sebaiknya tunda niat donor dan konsultasikan dengan dokter untuk mencari tahu penyebab serta mendapatkan penanganan yang tepat.
Pemeriksaan kadar hemoglobin sebelum donor darah sejatinya juga menjadi kesempatan berharga bagi masyarakat untuk mengetahui status kesehatannya secara gratis. Jika terdeteksi anemia, langkah selanjutnya adalah memperbaiki pola makan dan menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga medis.
Setelah kadar hemoglobin kembali normal dan tubuh benar-benar sehat, barulah seseorang diperbolehkan untuk mendonorkan darahnya. Dengan demikian, tindakan mulia donor darah tidak membahayakan kesehatan pendonor, melainkan memberikan manfaat bagi sesama yang membutuhkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....