Bahaya Begadang, Bisa Merusak Otak hingga Sistem Imun

  • 09 Apr 2026 13:19 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Pukul satu dini hari, layar gawai masih terang benderang ditemani jari-jari yang tak henti menggulir. Kebiasaan begadang yang kerap dianggap sepele ini nyatanya menyimpan bahaya serius yang mengintai kesehatan secara diam-diam. Padahal, ada tugas yang "tinggal sedikit" atau pekerjaan yang "tanggung kalau tidak diselesaikan malam ini" sering menjadi alasan untuk mengorbankan waktu tidur.

Berdasarkan artikel situs ayosehat.kemkes.go.id, kurang tidur secara kronis dapat merusak fungsi otak, jantung, hingga sistem kekebalan tubuh secara signifikan. Kebiasaan begadang yang dilakukan terus-menerus ternyata berdampak jauh lebih buruk daripada sekadar rasa kantuk keesokan harinya. Organ-organ vital dalam tubuh perlahan-lahan mengalami penurunan fungsi akibat tidak adanya waktu pemulihan yang cukup saat tidur.

Dampak paling langsung dari begadang dirasakan oleh otak sebagai pusat kendali tubuh. Kurang tidur mengganggu kemampuan otak untuk memproses dan menyimpan ingatan, sehingga seseorang menjadi lebih mudah lupa dan sulit berkonsentrasi. Proses belajar dan berpikir yang seharusnya berjalan optimal menjadi terhambat karena tingkat kewaspadaan serta kemampuan penalaran menurun drastis. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat mempercepat proses penuaan otak yang ditandai dengan gejala pelupa layaknya orang lanjut usia.

Sistem kekebalan tubuh juga menjadi korban utama dari kebiasaan begadang yang tidak terkendali. Tidur yang cukup memungkinkan tubuh memproduksi sitokin, yaitu senyawa penting yang bertugas melawan bakteri dan virus dalam tubuh. Ketika waktu tidur terus-menerus dikurangi, produksi senyawa pelindung ini ikut menurun drastis sehingga pintu masuk bagi berbagai penyakit menjadi terbuka lebar. Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama ketika sakit.

Ancaman serius lainnya mengintai kesehatan jantung para pelaku begadang kronis. Kurang tidur terbukti meningkatkan risiko penyakit serius seperti diabetes, obesitas, penyakit jantung, serangan jantung, gagal jantung, hingga tekanan darah tinggi. Gangguan hormonal yang dipicu oleh kurang tidur juga memicu peningkatan hormon kortisol yang membuat tubuh dalam kondisi siaga terus-menerus. Kondisi ini lambat laun akan membebani kerja jantung dan pembuluh darah secara berlebihan.

Dari sisi hormonal, begadang menyebabkan ketidakseimbangan yang berdampak luas pada metabolisme tubuh. Kurang tidur mengganggu hormon leptin dan ghrelin yang mengontrol nafsu makan, sehingga meningkatkan keinginan untuk makan berlebihan terutama camilan malam hari.

Akibatnya, berat badan perlahan naik dan risiko obesitas meningkat signifikan dibandingkan mereka yang tidur 7-9 jam setiap malam. Penelitian bahkan mengungkap bahwa orang yang tidur kurang dari 6 jam sehari lebih berisiko mengalami obesitas dibandingkan dengan mereka yang memiliki pola tidur ideal.

Tidak hanya fisik, kesehatan mental pun ikut terganggu oleh kebiasaan begadang yang berkepanjangan. Perubahan suasana hati yang drastis, kecenderungan lebih emosional, serta hilangnya kesabaran menjadi tanda-tanda awal yang sering diabaikan. Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius seperti perilaku impulsif, kecemasan berlebihan, depresi, hingga gangguan paranoid.

Produktivitas kerja dan kualitas hidup secara keseluruhan pun menurun drastis karena tubuh dan pikiran tidak pernah benar-benar pulih.

Masyarakat diimbau untuk mulai meninggalkan kebiasaan begadang dan membangun pola tidur yang sehat dan teratur. Orang dewasa pada umumnya memerlukan waktu tidur antara 7 hingga 9 jam setiap malam agar tubuh dapat berfungsi optimal. Menciptakan rutinitas tidur yang konsisten, menghindari paparan layar gawai sebelum tidur, serta menata lingkungan kamar yang nyaman menjadi langkah awal yang sederhana namun efektif.

Ingatlah bahwa tidak ada pekerjaan atau hiburan semalam yang sebanding dengan risiko kerusakan otak, jantung, dan sistem imun yang mengancam kesehatan jangka panjang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....