Benarkah Kurang Tidur Membuat Kita Rawan Terkena Penyakit?
- 08 Apr 2026 11:06 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Kebutuhan tidur yang cukup sering diabaikan oleh masyarakat modern di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari. Padahal, saat tubuh terlelap, berbagai proses penting seperti perbaikan sel dan penguatan sistem kekebalan tubuh sedang berlangsung secara optimal. Kebiasaan mengurangi waktu tidur secara terus-menerus dapat membuka pintu bagi berbagai penyakit serius yang mengintai kesehatan jangka panjang.
Berdasarkan informasi yang dirilis dari situs ayosehat.kemkes.go.id, orang dewasa membutuhkan waktu tidur berkualitas selama 7 hingga 8 jam setiap malam untuk menjaga metabolisme dan memperkuat sistem kekebalan tubuh . Kurang tidur terbukti mengganggu keseimbangan hormon kortisol yang berperan dalam respons stres, sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap berbagai serangan penyakit . Kebiasaan begadang yang dilakukan terus-menerus juga dapat menggeser komposisi mikrobiota usus yang berkaitan erat dengan sistem imun tubuh .
Sistem kekebalan tubuh memproduksi protein yang disebut sitokin untuk melawan infeksi, peradangan, dan stres . Protein pelindung ini justru dilepaskan oleh tubuh saat seseorang sedang tertidur nyenyak. Jika waktu tidur berkurang, produksi sitokin ikut menurun drastis sehingga kemampuan sel darah putih dalam melawan infeksi melemah dan tubuh pun mudah terserang penyakit .
Ritme sirkadian atau jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur-bangun sangat mempengaruhi aktivitas sel-sel kekebalan . Selama tidur malam yang berkualitas, sistem imun melepaskan sitokin yang dibutuhkan untuk melawan infeksi, sementara sel-sel pembunuh alami mencapai tingkat aktivitas paling tinggi . Ketika siklus tidur terganggu, produksi sel-sel pelindung ini menurun drastis sehingga waktu pemulihan saat sakit menjadi lebih lama.
Kurang tidur yang berlangsung kronis juga berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit degeneratif jangka panjang . Ketidakteraturan jam biologis dapat memicu peradangan kronis tingkat rendah yang menjadi pemicu utama penyakit jantung, diabetes tipe 2, hingga gangguan metabolisme lainnya . Orang dengan kebiasaan kurang tidur juga lebih rentan mengalami tekanan darah tinggi, obesitas, dan stroke dibandingkan mereka yang memiliki pola tidur teratur .
Selain risiko fisik, kurang tidur berdampak signifikan terhadap kesehatan mental dan fungsi kognitif sehari-hari. Rasa lelah dan kantuk yang muncul akibat kurang tidur menyebabkan konsentrasi menurun, daya ingat melemah, serta kemampuan mengambil keputusan terganggu . Pada akhirnya, siklus kurang tidur dapat memperburuk stres dan kecemasan yang justru membuat seseorang semakin sulit mendapatkan tidur berkualitas.
Masyarakat diimbau untuk mulai memperbaiki kualitas tidur dengan menerapkan rutinitas yang konsisten setiap hari. Menghindari konsumsi kafein di malam hari, membatasi penggunaan gawai sebelum tidur, serta menciptakan suasana kamar yang nyaman dan gelap dapat membantu meningkatkan kualitas istirahat malam . Dengan menjaga durasi dan kualitas tidur yang cukup, tubuh akan memiliki pertahanan optimal untuk melawan berbagai penyakit dan menjalani aktivitas dengan lebih produktif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....