Psikolog UNAIR Soroti Dampak Broken Home pada Anak
- 22 Mar 2026 21:30 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Menjaga kesehatan mental anak, dibutuhkan peran aktif dari orang tua. Pakar Psikologi Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana menyoroti meningkatknya fenomena broken home atau disfungsi keluarga.
Berdasarkan data BKKBN, sekitar 4,79 persen keluarga di Indonesia mengalami konflik cerai hidup yang berdampak pada peningkatan fenomena broken home. Menanggapi hal tersebut, Atika menyoroti peran orang tua, akan pentingnya menjaga kesehatan mental anak.
Atika menjelaskan, broken home terjadi saat keluarga tidak berfungsi optimal. “Broken home muncul akibat konflik tinggi, sehingga keluarga tidak lagi harmonis,” ucapnya, Minggu, 22 Maret 2026.
Ia menambahkan, kondisi tersebut berdampak pada semua anggota keluarga, terutama anak. “Dampaknya signifikan pada perkembangan mental anak,” ujarnya.
Menurut Atika, dampak terlihat dari perubahan perilaku sehari-hari anak. Anak cenderung menarik diri dan kehilangan kepercayaan diri.
“Mereka kurang berminat berinteraksi, prestasi akademik menurun, serta mengalami perubahan emosi,” katamya. Kondisi ini dipicu krisis kepercayaan dalam keluarga.
| Baca juga: Psikolog UNAIR Soroti Krisis Mental Remaja |
Atika menyebut dua kondisi anak perlu bantuan profesional. Pertama, perubahan perilaku semakin memburuk secara signifikan.
Kedua, keluarga tidak mampu memberi dukungan emosional sehat, terutama jika ada kekerasan. “Anak perlu lingkungan aman dan pendampingan profesional,” ujarnya.
Atika menegaskan, orang tua berperan besar menjaga kesehatan mental anak. Faktor lingkungan, komunikasi, dan kehadiran orang tua sangat memengaruhi kondisi anak.
Namun, tidak semua anak broken home mengalami gangguan mental. “Komunikasi terbuka dan pendampingan konsisten membantu anak menyalurkan emosi,” ucapnya.
Ia menekankan pentingnya memahami kematangan anak sesuai usia dan emosinya. Anak kecil perlu pendampingan intensif, sedangkan remaja butuh komunikasi terbuka.
Di akhir, Atika menegaskan anak bukan penyebab konflik keluarga. “Konflik terjadi antar orang dewasa, bukan karena anak,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....