Berbagi Pisau Cukur Tingkatkan Penularan Infeksi Kulit
- 25 Feb 2026 23:04 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID,Surabaya - Kebiasaan mencukur bulu maupun jenggot yang selama ini dianggap bagian dari perawatan diri ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak boleh dianggap sepele. Para ahli kesehatan kulit mengingatkan bahwa pisau cukur dapat menjadi media utama masuknya bakteri penyebab infeksi kulit.
Dokter spesialis dermatologi dan venereologi asal Surabaya, dr. Kurniawan Wicaksono, Sp.DV, menjelaskan bahwa penggunaan pisau cukur berpotensi memicu berbagai masalah kulit. Hal tersebut disampaikannya saat diwawancarai Pro1 melalui sambungan telepon, Rabu 25 Februari 2026.
Menurut dr. Kurniawan, proses mencukur sering kali menimbulkan luka mikroskopis yang tidak disadari pengguna. Luka halus ini menjadi pintu masuk bakteri Staphylococcus aureus ke lapisan kulit yang lebih dalam. “Bilah pisau sering menyebabkan luka mikroskopis atau iritasi pada kulit, yang memungkinkan bakteri S. aureus yang biasanya hidup secara normal di hidung atau kulit masuk ke lapisan lebih dalam,” jelasnya.
Akibatnya, berbagai infeksi kulit dapat muncul, mulai dari folikulitis, bisul atau furunkel, karbunkel, hingga selulitis. Infeksi tersebut umumnya terjadi pada area tubuh yang paling sering dicukur, terutama wajah, leher, ketiak, maupun area genital.
Risiko infeksi semakin tinggi ketika alat cukur digunakan secara bergantian. Praktik berbagi pisau cukur dinilai sangat berbahaya karena dapat memindahkan bakteri dari satu orang ke orang lain, termasuk bakteri kebal antibiotik. “Berbagi pisau cukur dengan orang lain sangat meningkatkan risiko penularan, termasuk strain yang lebih berbahaya seperti MRSA,” tambah dr. Kurniawan.
Ia menjelaskan bahwa bakteri dapat bertahan pada bilah pisau yang terkontaminasi darah, nanah, atau sel kulit mati selama beberapa jam hingga beberapa hari. Kondisi kulit yang sudah iritasi, penggunaan pisau tumpul, serta teknik mencukur melawan arah rambut juga dapat memperparah kerusakan kulit dan memicu infeksi berulang.
Untuk mencegah risiko tersebut, masyarakat dianjurkan menerapkan kebiasaan mencukur yang aman. “Gunakan pisau cukur pribadi, ganti bilah secara rutin, bersihkan alat cukur dengan alkohol atau sabun setelah digunakan, cukurlah dengan teknik lembut mengikuti arah rambut, dan gunakan krim cukur,” sarannya.
Jika keluhan seperti bisul atau iritasi terus muncul setelah bercukur, dr. Kurniawan menyarankan agar aktivitas mencukur dihentikan sementara. “Sebaiknya hentikan sementara mencukur, gunakan trimmer listrik, dan konsultasikan ke dokter kulit untuk memeriksa kemungkinan kolonisasi S. aureus atau MRSA yang berulang,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....