Sugiharto Soroti Ramuan Herbal Tradisional Perkuat Farmasi Indonesia
- 13 Feb 2026 20:40 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Pada era modernisasi farmasi, Indonesia tetap merawat warisan ramuan tradisional turun-temurun. Guru Besar toksikologi Universitas Airlangga, Prof. Sugiharto menyoroti potensi temu giring, temu kunci, jahe merah, temulawak, dan sambung nyawa.
Tanaman tersebut terbukti menstimulasi peningkatan enzim antioksidan endogen pada penelitian laboratorium. Senyawa aktifnya juga berpotensi sebagai anti-kanker dan anti-bakteri alami.
“Ekstrak tanaman lokal mengandung fenolik, flavonoid, dan curcuminoid yang berpotensi sebagai antioksidan,” ujarnya. Ekstrak mampu menurunkan MDA dan meningkatkan enzim antioksidan SOD serta CAT.
Ia menambahkan ekstrak mampu meningkatkan ekspresi gen antioksidan dan menekan kerusakan sel hepar mencit. Penelitian dilakukan pada kondisi stres oksidatif akibat paparan logam berat Pb dan Cd.
Pasar global obat herbal diproyeksikan mencapai USD 24,5 miliar pada 2030. Momentum ini diperkuat pengakuan jamu sebagai warisan budaya oleh UNESCO sejak 2023.
Namun, status jamu masih berada pada level terbawah klasifikasi Obat Bahan Alam menurut BPOM. "Saintifikasi jamu memerlukan uji in vitro, in vivo, hingga uji klinis,” katanya.
Ia menilai saintifikasi membuka peluang peningkatan status jamu menjadi obat herbal terstandar dan fitofarmaka. “Harapannya, proses ini mendukung kemandirian obat nasional,” ujatnya.
Ia juga menyoroti tantangan deforestasi, bencana alam, dan standardisasi ekstrak tanaman obat. “Diperlukan sinergi akademisi, petani, industri farmasi, dan pemerintah dari hulu ke hilir,” katanya.
Sebagai penutup, ia menegaskan potensi alam sebagai laboratorium raksasa yang belum sepenuhnya dipahami. “Eksplorasi tanaman lokal dapat menjadi kunci penyembuhan penyakit kronis dan kemandirian obat nasional,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....