Hipotermia, Ancaman Nyata Pendaki Gunung
- 01 Feb 2026 11:32 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Kasus pendaki gunung yang mengalami hipotermia masih menjadi perhatian serius di Indonesia. Kondisi cuaca yang cepat berubah, suhu ekstrem, serta kurangnya kesiapan pendaki kerap memicu penurunan suhu tubuh secara drastis saat berada di kawasan pegunungan.
Dalam sejumlah kasus, hipotermia bahkan berujung pada kematian. Hipotermia merupakan kondisi medis berbahaya yang terjadi ketika suhu inti tubuh turun di bawah batas normal.
Menurut laman resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hipotermia terjadi saat suhu tubuh berada di bawah 35 derajat Celsius. Dalam keterangannya disebutkan, “hipotermia adalah kondisi darurat ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat dibandingkan kemampuan tubuh untuk memproduksi panas” tulis Kemenkes RI.
Di wilayah pegunungan, risiko hipotermia meningkat akibat suhu udara rendah, angin kencang, hujan, serta kondisi tubuh yang kelelahan. Pakaian basah, kurangnya asupan makanan dan cairan, serta paparan dingin dalam waktu lama mempercepat hilangnya panas tubuh pendaki.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) dalam keterangan resminya menjelaskan bahwa lingkungan bersuhu dingin dapat berdampak serius bagi tubuh manusia. “Paparan suhu dingin yang berkepanjangan, terutama jika disertai angin dan kelembapan tinggi, dapat mengganggu fungsi vital tubuh", tulis WHO.
Gejala hipotermia umumnya diawali dengan menggigil hebat, tubuh terasa sangat dingin, kebingungan, serta gangguan koordinasi. Pada kondisi lebih berat, penderita dapat mengalami penurunan kesadaran, gangguan irama jantung, hingga kegagalan organ.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan pentingnya upaya pencegahan bagi masyarakat yang beraktivitas di alam terbuka. Pendaki disarankan menggunakan pakaian hangat berlapis, menjaga tubuh tetap kering, mencukupi kebutuhan energi, serta segera menghentikan aktivitas apabila muncul tanda-tanda hipotermia.
Pemahaman mengenai hipotermia menjadi bekal penting bagi setiap pendaki gunung. Dengan kesiapan fisik, perlengkapan yang memadai, serta pengetahuan yang cukup, risiko kecelakaan pendakian akibat hipotermia diharapkan dapat diminimalkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....