Terlalu Suka Bersih-bersih, Waspadai Gangguan OCD

  • 23 Nov 2025 03:17 WIB
  •  Surabaya

KBRN,Surabaya: Menjaga kebersihan merupakan bagian penting dari pola hidup sehat. Namun, dalam beberapa kasus, kebersihan justru dapat menjadi sumber kecemasan yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini dikenal dalam psikologi sebagai Gangguan Obsesif-Kompulsif (OCD), sebuah gangguan yang membuat penderitanya terjebak dalam pola pikir obsesif dan tindakan berulang. Wenika, psikolog klinis dari Surabaya, menjelaskan bahwa perilaku menjaga kebersihan dapat berubah menjadi obsesi ketika dilakukan secara berulang dan mengganggu aktivitas harian.

"Orang dengan gangguan OCD ini memiliki semacam obsesi untuk selalu berperilaku hidup bersih, dan dilakukan dengan pola berulang," ujar Wenika saat dihubungi melalui telepon pada Sabtu (22/11/2025).

Ia menambahkan bahwa perilaku seperti mencuci tangan berlebihan atau mandi terlalu lama adalah contoh yang sering ditemui. Menurut Wenika, menyukai kebersihan adalah hal yang normal. Namun, perilaku tersebut menjadi tidak sehat ketika mulai menimbulkan kecemasan atau “penderitaan” yang signifikan.

Penderita OCD dapat menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan diri atau lingkungan karena ketakutan berlebih terhadap kotoran atau penyakit. Ketakutan ini juga dapat memunculkan gejala fisik seperti jantung berdebar, gelisah, dan sesak napas.

Selain dampak fisik, OCD juga berpengaruh pada kehidupan sosial penderita. Kebiasaan bersih-bersih yang berlebihan sering kali membuat seseorang mengabaikan tanggung jawab lain, bahkan dapat mengganggu pekerjaan maupun hubungan dengan orang terdekat. Hal ini menjadikan OCD bukan sekadar masalah kebiasaan, tetapi gangguan yang membutuhkan penanganan profesional.

Wenika turut menegaskan bahwa OCD berbeda dengan perfeksionisme. "Pada seseorang perfeksionis, biasanya ia cenderung menginginkan kesempurnaan, tetapi biasanya tidak disertai dengan kecemasan berlebih, dan biasanya tidak sampai menimbulkan gangguan di lingkungan sosial atau bahkan pekerjaan," ujarnya.

Pada kasus OCD, perilaku justru dipicu oleh rasa takut yang tidak dapat dikendalikan. Di akhir penjelasannya, Wenika menyarankan agar keluarga yang memiliki anggota dengan gejala OCD segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Penanganan OCD biasanya melibatkan terapi perilaku, konseling, hingga penggunaan obat-obatan untuk membantu mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup penderita.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....