Kapur Barus: Antara Manfaat dan Bahayanya bagi Kesehatan

  • 04 Jan 2025 00:59 WIB
  •  Surabaya

KBRN,Surabaya: Kapur Barus atau juga dikenal Kamper, senyawa organik dengan aroma khas yang tajam, telah lama dikenal dan digunakan dalam berbagai budaya sebagai pengharum ruangan, penolak serangga, dan bahkan dalam pengobatan tradisional. Namun, di balik manfaatnya yang tampak sederhana, terdapat risiko kesehatan yang signifikan, terutama jika terhirup, seperti yang diungkapkan oleh Philip, mahasiswa Prodi Kimia, Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Pakar kimia muda ini menekankan bahaya laten yang terkandung dalam kamper, yang sebagian besar berasal dari kandungan bahan kimianya. Kamper, secara kimia dikenal sebagai 1,7,7-trimetilbicyclo[2.2.1]heptan-2-one, memang memiliki beberapa manfaat yang diakui secara tradisional.

Aroma kuatnya terbukti efektif dalam mengusir serangga tertentu, seperti ngengat dan kecoa. Beberapa budaya juga menggunakannya sebagai bahan dalam pengobatan tradisional untuk meredakan nyeri otot atau sebagai antiseptik ringan.

Namun, penggunaan ini perlu dikaji ulang mengingat potensi bahaya yang ditimbulkannya. Philip menjelaskan bahwa kamper dalam bentuk padat relatif aman jika tidak tertelan atau terhirup dalam jumlah besar.

Namun, bahaya utama kamper justru terletak pada bentuknya yang mudah menyublim, yaitu berubah dari padat menjadi gas pada suhu ruangan. Uap kamper yang terhirup inilah yang menjadi sumber risiko kesehatan yang serius. Konsentrasi uap kamper yang tinggi di udara dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari yang ringan hingga yang berat.

Gejala ringan yang mungkin muncul setelah menghirup uap kamper antara lain iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan. Penderita mungkin mengalami batuk, bersin, dan hidung berair. Pada kasus yang lebih parah, hirup uap kamper dalam dosis tinggi dapat menyebabkan mual, muntah, pusing, sakit kepala, dan bahkan kejang.

Anak-anak dan bayi sangat rentan terhadap efek toksik kamper karena sistem pernapasan dan metabolismenya yang masih berkembang. Pada kasus ekstrim, terpapar uap kamper dalam jumlah besar dapat menyebabkan depresi sistem saraf pusat, koma, dan bahkan kematian.

Lebih lanjut, Philip menjelaskan bahwa bahaya kamper tidak hanya terbatas pada efek akutnya. Paparan kronis terhadap uap kamper, meskipun dalam konsentrasi rendah, dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan.

Studi ilmiah telah menunjukkan hubungan antara paparan kamper jangka panjang dengan gangguan fungsi hati dan ginjal. Meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan hubungan sebab-akibat yang pasti, hati-hati tetap perlu diutamakan mengingat potensi risikonya.

"Banyak yang menganggap kamper sebagai sesuatu yang alami dan aman, padahal itu tidak sepenuhnya benar," ujar Philip. "Meskipun berasal dari tumbuhan, proses pengolahan dan kandungan kimia dalam kamper tetap perlu diwaspadai. Kita perlu lebih bijak dalam menggunakannya dan lebih memprioritaskan keselamatan."

Philip menyarankan agar penggunaan kamper di rumah dibatasi seminimal mungkin, terutama di ruangan yang berventilasi buruk dan di rumah yang memiliki penghuni anak-anak atau bayi. Sebagai alternatif, ia menganjurkan penggunaan pengharum ruangan atau penolak serangga yang lebih aman dan telah teruji secara ilmiah.

Jika terpaksa menggunakan kamper, penting untuk memastikan ventilasi ruangan yang baik dan menghindari kontak langsung dengan kulit atau mata. Penyimpanan kamper juga harus di tempat yang aman dan terhindar dari jangkauan anak-anak

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....