Mengenal FOMO dan JOMO, Istilah yang Sedang Populer
- 11 Nov 2024 14:13 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: Istilah FOMO (Fear of Missing Out) dan JOMO (Joy of Missing Out) kini semakin sering terdengar di kalangan anak muda. Dua konsep ini menggambarkan pola perilaku yang cukup bertolak belakang dalam merespons kegiatan sosial dan informasi yang cepat berubah.
Maratus, mahasiswa dari Fakultas Bahasa Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menjelaskan makna dari istilah-istilah tersebut. FOMO adalah rasa takut ketinggalan informasi, acara, atau tren terbaru. “FOMO membuat seseorang merasa perlu terus-terusan update dan mengikuti aktivitas teman atau tren di media sosial. Kalau tidak, mereka merasa tertinggal,” jelas Maratus pada RRI, Senin (11/11//2024).
Maratus menambahkan, efek dari FOMO bisa menyebabkan stres, kecemasan, dan bahkan membuat seseorang merasa tidak cukup baik karena selalu membandingkan diri dengan orang lain.
“Di kalangan mahasiswa, FOMO sering muncul ketika ada teman yang melakukan hal-hal menarik, seperti ikut seminar, acara kampus, atau sekadar posting pengalaman menarik. Ini mendorong individu untuk ikut terlibat, meskipun mungkin tidak sesuai dengan keinginan pribadi,” ujarnya.
Sebaliknya, JOMO menurut Maratus, adalah perasaan bahagia karena memilih untuk tidak ikut serta dalam aktivitas tertentu, tanpa merasa ketinggalan. “JOMO adalah konsep yang lebih positif, karena fokus pada kebahagiaan diri sendiri tanpa harus terlibat dalam semua tren atau kegiatan. Orang dengan JOMO lebih menikmati waktu sendiri atau aktivitas yang sesuai dengan preferensi mereka,” jelas Maratus.
Maratus menilai bahwa JOMO memiliki dampak positif bagi kesehatan mental karena mengurangi stres akibat tekanan sosial. “Dengan JOMO, seseorang lebih bisa menghargai diri sendiri, menikmati waktu, dan memilih aktivitas yang benar-benar mereka nikmati tanpa harus khawatir terlihat ‘tidak keren’ di mata orang lain,” tambahnya.
Memahami perbedaan FOMO dan JOMO, kata Maratus, membantu seseorang lebih sadar terhadap pilihannya sendiri. “Dengan memahami kedua konsep ini, kita bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan menjaga kesehatan mental,” tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....