Tetap Waras di Lingkungan Kantor Yang Keras
- 09 Okt 2024 19:51 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: Kekerasan dalam lingkungan kerja tidak dibenarkan apapun alasannya. Kasus kekerasan yang dilakukan bos sebuah perusahaan animasi kepada pegawainya di Jakarta hingga terbaru bullying yang dilakukan sesama rekan kerja, kian menggambarkan lingkungan kerja Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Menurut Astrid Wiratna Psikolog Dear Astrid, lingkungan kerja saat ini memang sedang tidak baik-baik saja banyak pekerja yang mengalami gangguan kesehatan mental dampak dari hal tersebut.
Namun pekerja diminta harus tetap waras dikantor yang keras dengan cara-cara yang kita butuhkan misalnya melaporkan kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan kerja karena ada hukum yang mengikat.
"Lingkungan kerja akhir-akhir ini sedang tidak baik-baik saja karena kita lihat banyak pemberitaan tentang kasus kekerasan yang dilakukan bos dan rekan kerja tapi kita punya pilihan untuk tetap waras di kantor yang keras dengan cara misalnya melaporakn bentuk-bentuk kekerasan karena ada hukum yang mengaturnya seperti Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan KUHP Pasal 335 tentang Penganiayaan, pelaku bisa dihukum jika terbukti melakukan kesalahan," ujarnya saat diwawancarai RRI Surabaya Jumat (4/10/2024).
Kekerasan dan penganiayaan di tempat kerja kata Astrid dapat menimbulkan dampak gangguan mental bagi pegawainya. Masalah kesehatan jiwa di tempat kerja telah menjadi perhatian serius, lantaran dampaknya yang cukup signifikan terhadap individu dan ekonomi.
"Lingkungan kerja saat ini dimana kita bertemu dengan banyak orang, ada yang baik, ada yang toxic tentu sangat berkontribusi terhadap seberapa produktif seseorang di tempat kerja oleh karenanya kondisi lingkungan kerja erat kaitannya dengan kesehatan fisik dan mental para pekerja," ucapnya.
Data WHO menyebut 15 persen orang dewasa usia kerja mengalami gangguan jiwa pada tahun 2019, prevalensi tertinggi di kalangan populasi pekerja. Bahkan sekitar 12 miliar hari kerja hilang setiap tahunnya karena depresi dan kecemasan sehingga mengakibatkan hilangnya produktivitas sebesar 1 triliun dollar Amerika Serikat per tahun. Padahal diakui Astrid, lingkungan kerja yang positif sangat mendukung produktifitas pekerja.
"Manajemen perusahaan yang baik serta awareness akan pentingnya kesehatan mental di lingkungan kerja pada hakikatnya akan meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas karyawan di perusahaan tersebut," terangnya.
Berdasarkan data dan studi yang ada, karyawan dengan kesehatan mental yang baik memiliki tingkat produktivitas sebesar 12 – 15% lebih tinggi jika dibandingkan dengan karyawan yang mengalami gangguan mental.
Perusahaan yang memiliki mental health awareness yang baik akan membuat para karyawannya merasa lebih aman dan nyaman saat bekerja. Mereka cenderung untuk lebih berani berpendapat dan berpikir lebih baik, memiliki fokus kerja yang lebih baik, serta lebih berani untuk mengambil keputusan.

Sementara itu, Fina Putri salah satu pegawai media di Surabaya mengaminkan pernyataan psikolog dear Astrid ini mengingat lingkungan kerjanya yang menyenangkan berdampak positif bagi peningkatan produktivitas kinerja.
"Ya kalau kebijakan bos enak, rekan kerja juga bisa bantu dan menyenangkan maka produktivitas pegawai pasti juga meningkat kok, karena lingkungannya menyenangkan layaknya di rumah sendiri tapi ga kebayang kalau di kantor udah ga nyaman, musuhan sama teman, bos killer aduhh pasti kayak neraka itu," aku Fina.
Fina bersyukur bisa bekerja di lingkungan yang cukup baik dan nyaman. Bahkan jika hingga 15 tahun bertahan semua karena kebijakan dan pertemanan yang berkualitas sehingga diakui Fina, Ia bisa bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik utamanya yang berkaitan dengan tanggung jawab pekerjaan yang ia tekuni.
"Sampai bisa bertahan hingga 15 tahun dari awal msuk tahun 2009, ya karena saya seolah mendapat rumah kedua lingkungannya enak dan temannya juga asyik jadi kerjanya juga makin seru," akunya.
Sementara itu, berbeda dengan Fina, seorang pegawai salah satu perusahaan ekspedisi di Surabaya Ratih Anjar justru merasakan lingkungan kerja yang tak menyenangkan. Kebijakan atasan yang berat sebelah, intimidasi dan hal lain yang kurang mengenakkan pernah ia alami selama kurang lebih dua tahun berkerja di tempat tersebut.
"Kalau mau kerja bawaannya males, ya takut, ya ga mood, ya ga enak aja lingkungannya, belum lagi temannya banyak yang cari muka jadi ya ga asyik lah, saya bertahan ya karena butuh pekerjaan ini, kan cari kerja susah," terang perempuan berusia 25 tahun ini.
Ratih mengaku selama hampir dua tahun berkerja di perusahaan tersebut, Ia kesulitan untuk bisa mengambil cuti meski hanya sekedar untuk berobat. Belum lagi hampir setiap hari harus lembur mengerjakan pekerjaan yang seharsunya bukan menjadi tanggung jawabnya.
"Mau cuti susah padahal cutinya juga buat rehat karena sakit atau kurang enak badan, terus tiap hari kerjanya over time lembur terus lebih jam tapi ga dikasih bonus dan uang lembur, gimana donk kalau gitu ya kan," kenangnya.
Meski berat Ratih mengaku bersyukur bisa keluar dari lingkungan pekerjaan yang tidak baik untuk kesehatan mentalnya. Karena menurutnya uang bisa dicari di lain tempat dan waktu namun kesehatan mental tetap harus dijaga dengan baik.
"Kesehatan mental akhir-akhir ini kan jadi isu menarik ya melihat dampaknya juga yang buat orang depresi bahkan paling tragis mengakhiri hidup dan saya memilih untuk menyelamatkan diri saya dari dampak buruk itu, gimana ga depresi kalau cuti aja ga bisa padahal lagi sakit dan mau berobat, kerja lembur ga dapat bonus ya udahlah resign aja kerja bisa dicari tapi sehatnya mental perlu dijaga," terangnya.
Sementara itu, merujuk pada kasus tersebut, hasil survey mandiri pada bulan agustus 2024 yang dilakukan oleh RSJ (Rumah Sakit Jiwa) Menur terkait kesehatan mental di tempat kerja sebanyak 23% pegawai di suatu instansi terindikasi memerlukan layanan kesehatan jiwa dan 1 dari 4 orang pekerja berjuang secara diam-diam dengan kesehatan mental mereka.
Direktur RSJ Menur drg.Vitria Dewi,M.Si mengajak masyarakat untuk menjaga kesehatan mental dengan beberapa opsi. "Menjaga Kesehatan mental itu sangat penting, dengan cara bagaimana? dengan mencari dukungan dari orang terdekat. Tidak hanya itu saja, pola makan juga perlu diperhatikan, selain makan- makananan yang sehat olahraga juga sebaiknya dilakukan secara rutin," paparnya.
Selain itu dr Vitria menekankan pentingnya menjaga kualitas tidur, selain itu embuat skala prioritas dan mengatur waktu juga sangat perlu."Mengapa? karena jika kita memperhatikan skala prioritas maka tidak akan membuat kita tertekan dengan segala target tertentu yang kita bebankan pada diri dengan waktu yang terkadang tidak masuk akal, sehingga saat tubuh sudah memberi peringatan, kita tidak abai," ujar dr Vitria.
Tdak hanya itu, satu hal lagi yang kerap kali membuat kita berada dalam kondisi stress adalah tidak menjadi perfeksionis, menuntut diri kita untuk menjadi sempurna dengan penuh tekanan menurut nya justru akan menambah ketidakstabilan mental kita.
"Sadar akan kesehatan mental menjadi prioritas utama yang harus dilakukan," terangnya.
drg Vitria mengingatkan masyarakat jika membutuhkan bantuan professional, RSJ Menur siap membantu dengan program yang dimilikinya.
"Optimalkan layanan OJO BINGUNG yang ada di RSJ menur, apa itu layanan ojo bingung? Konsultasi psikologi online gratis yang bisa diakses setiap hari senin hingga jumat dengan menghubungi call centre kami di 081347275307. Begitu anda chat, kami akan langsung menghubungi anda, ada banyak psikolog yang siap untuk membantu masyarakat Jawa Timur," kata dr Vitria.
Dikutip dari laman yankes.kemkes.go.id, perusahaan memiliki tanggung jawab untuk mendukung seluruh karyawannya, termasuk mereka yang mengalami gangguan mental.
Beberapa bentuk dukungan yang dapat diberikan oleh perusahaan terhadap karyawannya yang mengalami gangguan mental di antaranya adalah memberikan cuti untuk memulihkan kesehatan mentalnya, membantu mencarikan bantuan profesional atau fasilitas perawatan yang diperlukan, menawarkan working arrangement yang fleksibel, menawarkan untuk memediasi apabila karyawan memiliki konflik di lingkungan kerja, serta membantu memfasilitasi komunikasi karyawan dengan atasan atau koleganya.
Berdasarkan data dan studi yang ada, karyawan yang mendapatkan dukungan tersebut cenderung memiliki pemulihan yang lebih cepat dan baik, serta dapat kembali bekerja dengan produktif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....