Garda Ksatria Airlangga Dampingi Psikologis Keluarga Korban Kapal Virgo
- 03 Okt 2026 22:08 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - UNAIR memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga korban Kapal Virgo Transport 8 yang tenggelam. Pendampingan dilakukan melalui Garda Ksatria Airlangga (GARKA) di Pos Pelayanan Basarnas Tanjung Perak.
Tim GARKA mendampingi keluarga korban selama proses pencarian dan identifikasi. Tim terdiri atas Dr dr Izzatul Fithriyah SpKJ(K), dr Winson Chuanardi, dan dr Dhimas Himawan.
Ketiganya merupakan bagian dari Program Studi Spesialis Psikiatri UNAIR yang terlibat dalam pendampingan keluarga. Dr Winson menjelaskan, tim berangkat setelah menerima informasi dan undangan dari Basarnas bersama unsur terkait.
Setibanya di lokasi, tim memberikan trauma healing untuk membantu keluarga menghadapi tekanan emosional. Menurut Winson, keluarga korban datang dengan membawa harapan sekaligus kecemasan selama menunggu kabar.
Sebagian keluarga masih menunggu informasi mengenai anggota keluarga yang belum ditemukan dalam musibah tersebut. “Kami mengajak ngobrol, mengenal mereka, bagaimana hubungan mereka dengan korban, kemudian mendengarkan apa yang mereka rasakan,” ujar Winson, Sabtu, 3 Oktober 2026.
“Ada yang menangis, terlihat sedih, tetapi ada juga yang masih kesulitan mengungkapkan bebannya,” ucapnya. Selain pendampingan psikologis, keluarga korban juga mengikuti proses identifikasi melalui pengambilan sampel DNA.
Proses tersebut menjadi bagian penting dalam pencarian dan identifikasi korban kapal yang tenggelam. Winson mengatakan, tekanan psikologis keluarga tidak otomatis berakhir setelah proses pencarian korban selesai.
Ketidakpastian keberadaan anggota keluarga dapat memunculkan kecemasan, kesedihan, hingga kesulitan menerima keadaan. “Yang sangat berat itu ketidakpastiannya. Mereka tidak tahu bagaimana kabar keluarga," kata Winson.
“Apakah sudah meninggal atau masih ada. Kondisi seperti itu membuat keluarga merasa tidak lega,” ujarnya. Ia menjelaskan, setiap orang memiliki respons berbeda ketika menghadapi situasi traumatis akibat bencana.
Sebagian mengungkapkan kesedihan melalui tangisan dan cerita, sementara lainnya memilih untuk diam. Karena itu, pendampingan perlu memberikan ruang bagi keluarga untuk mengekspresikan emosinya.
“Stres dan kecemasan akibat peristiwa traumatis dapat menetap apabila seseorang tidak memperoleh dukungan memadai,” kata Winson. “Pendampingan psikologis penting membantu keluarga melewati masa krisis dan mengenali kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut."
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....