Dosen Petra: Abu Vulkanik dan Karhutla Ancam Keselamatan Penerbangan
- 02 Okt 2026 21:51 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Indonesia berada di jalur Ring of Fire sekaligus kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan. Dosen Teknik Mesin Universitas Kristen (UK) Petra, Hariyo Priambudi Setyo Pratomo, menjelaskan dampaknya tidak sekadar mengganggu jarak pandang, namun juga keselamatan penerbangan.
Kondisi tersebut juga menyimpan ancaman bagi keselamatan penerbangan, terutama akibat abu vulkanik dan asap Karhutla. Menurutnya, abu vulkanik dan asap Karhutla dapat menyebar mengikuti angin hingga ruang udara pesawat.
“Keduanya memiliki mekanisme bahaya yang berbeda terhadap setiap mesin pesawat,” ujarnya, Jumat, 2 Oktober 2026. Material partikulat di atmosfer dapat memengaruhi mesin, bodi pesawat, sensor, komunikasi, dan sistem navigasi.
Tingkat risikonya bergantung pada jenis, ukuran, konsentrasi, durasi paparan, ketinggian, serta posisi pesawat. Hariyo mengatakan ancaman terbesar terjadi saat abu berinteraksi dengan suhu ekstrem ruang bakar turbin.
Abu vulkanik mengandung serpihan batu, mineral kompleks, serta pecahan volcanic glass yang tajam. Sementara itu, asap Karhutla mengandung partikel, gas, aerosol, dan udara panas turbulen.
"Semua material tersebut dapat memicu erosi bilah kompresor,” katanya. Menurut Hariyo, kondisi tersebut dapat mengganggu efisiensi dan kinerja mesin pesawat.
“Jika tersedot masuk mesin, keduanya berpotensi menghentikan jantung utama pesawat di udara,” ujarnya. Ia menjelaskan mesin jet menyedot volume udara dalam jumlah besar ketika pesawat melaju cepat.
Udara tercampur partikel, gas, serpihan batu, volcanic glass, dan mineral kompleks. Tumbukan partikel secara terus-menerus dapat memicu abrasi pada bilah kompresor.
Kondisi tersebut mengganggu pola aliran udara dan menurunkan efisiensi pembakaran mesin pesawat. Hariyo juga merujuk penelitian NASA mengenai asap Karhutla atau biomass burning.
"Asapnya dapat menyebar hingga jalur penerbangan dan menjadi bahaya penerbangan,” katanya. Ia menegaskan abu vulkanik dan asap Karhutla tidak boleh dianggap sebagai gangguan biasa.
“Jadi, kita tak bisa anggap remeh kedua bencana ini,” ucapnya. Dampak abu vulkanik dan asap Karhutla juga dapat mengganggu berbagai sistem pesawat.
Partikel pekat mampu mengikis bodi dan menggores kaca kokpit. Gesekan tersebut dapat mengurangi visibilitas pilot, sedangkan muatan listrik statis berpotensi mengganggu komunikasi radio.
Penyumbatan partikel juga dapat memengaruhi sensor kecepatan dan temperatur udara. Hariyo mengatakan gangguan sensor dapat menghasilkan data instrumen kokpit yang keliru.
Kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu sistem pendingin kabin hingga mengurangi daya dorong pesawat. Karena itu, pemeliharaan pascaterbang dan inspeksi menyeluruh menjadi bagian penting keselamatan penerbangan.
Armada yang terpapar abu vulkanik atau asap pekat tidak boleh langsung diterbangkan kembali. “Armada tersebut wajib menjalani inspeksi total sebelum kembali beroperasi,” ujarnya.
Pemeriksaan mencakup komponen mesin, sensor vital, filter udara, serta potensi erosi dan korosi. Hariyo mengingatkan ancaman abu vulkanik dan asap Karhutla bersifat dinamis, dan risiko tetap ada meskipun erupsi atau titik api mulai mereda.
“Pembaruan data sebaran abu secara real-time sangat penting untuk keselamatan penerbangan,” ujarnya. Maskapai juga perlu berani mengalihkan rute ketika kondisi udara tidak aman.
Ia menambahkan otoritas perlu memastikan landasan pacu terbebas dari kontaminasi. “Radar navigasi standar tidak dirancang mendeteksi awan abu atau asap,” ucap Hariyo.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....