Mentrans Dorong Biogas Margorukun Dikembangkan Jadi Listrik

  • 13 Sep 2026 09:27 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Kotoran ternak di Kampung Margorukun, Papua Barat, mulai dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif, yakni limbah ternak diolah menjadi biogas. Menteri Transmigrasi RI Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengapresiasi kinerja Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 08 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS),

Sementara itu, kebutuhan energi rumah tangga masih menghadapi tantangan karena warga bergantung pada minyak tanah. Kondisi tersebut membuka peluang pemanfaatan sumber daya lokal sebagai energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Melihat potensi tersebut, TEP 08 ITS menghadirkan reaktor biogas untuk mengolah kotoran sapi menjadi energi. Biogas tersebut dapat dimanfaatkan untuk memasak dan dikonversi menjadi listrik menggunakan generator stasioner.

Ketua TEP 08 ITS Dr Ir Arief Abdurrakhman ST MT menjelaskan kapasitas reaktor mencapai 10 meter kubik. “Dengan 10 ekor sapi, reaktor dapat memenuhi kebutuhan memasak untuk dua rumah,” kata Arief. “Sedangkan 20 ekor sapi dapat menghasilkan listrik 2.000 watt selama lima jam setiap hari."

Menurut Arief, residu fermentasi berupa bioslurry juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk mendukung pertanian. Potensi tersebut relevan karena sebagian besar masyarakat Distrik Oransbari menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian.

“Dengan memanfaatkan limbah ternak, satu inovasi dapat menjawab lebih dari satu kebutuhan masyarakat,” ujarnya. “Inovasi tersebut mencakup energi rumah tangga hingga kebutuhan pendukung pertanian.”

Menteri Transmigrasi mengapresiasi kerja nyata TEP 08 ITS dalam memanfaatkan potensi lokal masyarakat. Menurut Iftitah, potensi ternak dan hasil pertanian perlu diarahkan untuk memperkuat kemandirian masyarakat.

Ia mendorong pemanfaatan biogas tidak berhenti untuk memasak, tetapi segera dikembangkan menjadi energi listrik. “Konversi listrik harus segera direalisasikan," kata Iftitah. Iftitah menekankan keberhasilan program tidak hanya diukur dari teknologi yang berhasil dibangun.

Menurutnya, masyarakat harus mampu melanjutkan dan mengembangkan manfaat teknologi tersebut secara mandiri. Sejalan dengan hal tersebut, TEP 08 ITS membentuk Tim Kader Patriot (TKP) di Margorukun.

Tim tersebut terdiri atas masyarakat dan perangkat daerah setempat yang telah mendapat pembekalan pengetahuan serta keterampilan. Pembentukan TKP bertujuan menjaga keberlanjutan program setelah TEP 08 ITS kembali ke daerah asal.

Mekanisme serupa juga diterapkan TEP ITS di seluruh lokasi ekspedisi sebagai bagian keberlanjutan program. Iftitah menilai keberadaan TKP menjadi kekuatan penting dalam pelaksanaan program Transmigrasi Patriot ITS.

Menurutnya, kader lokal memastikan transfer pengetahuan dan teknologi tetap berjalan setelah tim pendamping meninggalkan lokasi. “Teknologi bukan sekadar bantuan sesaat, tetapi menjadi modal masyarakat membangun kesejahteraan secara mandiri,” ujarnya.

Bupati Manokwari Selatan Bernard Mandacan turut hadir dalam peninjauan dan mengapresiasi inisiatif TEP 08 ITS. Menurutnya, ilmu pengetahuan dan teknologi dari ITS membuka peluang pengembangan potensi lokal masyarakat.

“Ilmu dan teknologi yang dibawa Tim Ekspedisi Patriot dapat memacu masyarakat untuk berdaya,” ucap Bernard.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....