Hapus Stigma Mistis, Paguyuban Atmojo Satrio Prameswari Kuak Filosofi Luhur Jaran
- 01 Sep 2026 14:25 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Kesenian tradisional Jaranan pada anak kerap diidentikkan dengan stigma negatif oleh sebagian masyarakat. Mulai dari mitos kesurupan hingga aksi ekstrem seperti memakan pecahan kaca tanpa melihat sisi positifnya.
Ketua Paguyuban Seni Jaranan Anak Atmojo Satrio Prameswari, Sulastiyo menegaskan bahwa atribut dalam seni Jaranan memiliki makna mendalam. Properti kuda tiruan merefleksikan nilai-nilai luhur kehidupan.
"Jangan hanya ditonton saja, tetapi ada sesuatu yang ternyata memiliki nilai penting jika dijalankan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Sulastiyo.
Sulastiyo menjelaskan lebih lanjut, makna filosofis tersebut tidak hanya tercermin dari gerakan tarinya saja, tetapi juga melekat pada setiap perangkat atau piranti yang dikenakan dalam pertunjukan. Properti utama berupa kuda kepang (jaran kepang) menyimbolkan jiwa kesatria, ketangkasan, dan kendali atas hawa nafsu. Sementara itu, atribut busana dan aksesoris pendukung merefleksikan ketangguhan, kedisiplinan, serta semangat perjuangan yang gigih.
Karakter-karakter luhur ini dinilai krusial untuk membentuk mental generasi muda agar tangguh menghadapi berbagai tantangan zaman, sekaligus menepis pandangan miring masyarakat terhadap kesenian tradisional ini. Sebagai pendidik, Sulastiyo mulanya bukan seorang pelakon seni Jaranan. Namun, atas dasar kecintaan terhadap budaya, ia tergerak mempelajari dan mengenalkannya kepada masyarakat luas. Bahkan di era digitalisasi saat ini, upaya untuk mengenalkan seni jaranan anak dilakukan melalui konten di media sosial.
"Saya bukan pelakon tapi saya tertarik untuk mengenal lebih jauh soal seni ini bahkan sekarang setelah saya tau saya pingin terus mengenalkannya kepada anak anak muda. Tidak mudah memang untuk mengenalkan seni ini kepada anak-anak di tengah gempuran era digital, tapi ini coba kita kemas dengan konten di media sosial agar lebih bisa diterima anak-anak," kata Sulastiyo.
Pihaknya menyiasati tantangan tersebut dengan memanfaatkan platform digital dan media sosial. Melalui akun resmi paguyuban, konten-konten edukatif dikemas secara kreatif agar lebih ramah anak, menarik, dan mudah dipahami oleh generasi masa kini.
Meski antusiasme masyarakat cukup tinggi, ruang gerak sosialisasi diakuinya masih terbatas, khususnya di lingkungan tempat ia mengajar. Oleh karena itu, pihaknya turut mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Surabaya yang terus konsisten membuka ruang serta memberikan wadah bagi para pegiat seni lokal untuk berekspresi.
Melalui upaya pelestarian yang konsisten, Paguyuban Atmojo Satrio Prameswari berharap stigma negatif terhadap seni Jaranan anak dapat berangsur pulih. Masyarakat juga diajak untuk bersama-sama menjaga dan mencintai warisan budaya bangsa agar tidak tergerus kemajuan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....